Logo
Cybersecurity

AI Agent Mengubah Skill yang Dibutuhkan Tim Cybersecurity

AI yang memberikan rekomendasi membawa satu jenis risiko. AI yang bisa langsung bertindak membuat pekerjaan cybersecurity menjadi berbeda.

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 18, 2026
AI Agent Mengubah Skill yang Dibutuhkan Tim Cybersecurity

NIST sedang membangun AI agent untuk salah satu sumber data cybersecurity publik yang banyak digunakan.

Pada 17 September, Information Technology Laboratory NIST mempresentasikan pengembangan agentic workflow untuk membantu proses enrichment informasi vulnerability di National Vulnerability Database. NIST menyebut pekerjaan ini sebagai respons terhadap jumlah dan kompleksitas vulnerability yang terus meningkat. Presentasinya membahas architecture, masalah yang ditemukan selama implementation serta hasil awal penggunaan sistem tersebut.

Proyek tersebut menunjukkan perubahan yang lebih luas.

AI mulai bergerak dari menghasilkan informasi menuju menjalankan serangkaian pekerjaan. NIST menggambarkan AI agent sebagai sistem yang dapat melakukan tindakan secara otonom serta berinteraksi dengan sistem eksternal dan data internal.

Bagi profesional cybersecurity, ada lapisan kemampuan baru yang perlu dipelajari.

Security Harus Mengikuti Tindakannya

Aplikasi AI biasa menerima prompt lalu menghasilkan jawaban. Agent dapat memiliki akses ke tool, data dan permission yang membuatnya mampu melanjutkan pekerjaan sendiri.

Pertanyaan security ikut berubah.

  • Sistem apa saja yang bisa diakses agent?
  • Tindakan apa yang dapat dilakukan tanpa approval?
  • Identity dan permission apa yang digunakan?
  • Bagaimana sensitive context disimpan antar task?
  • Bisakah input yang tidak dipercaya mengubah tindakan berikutnya?
  • Evidence apa yang dicatat ketika agent melakukan sesuatu?
  • Di titik mana manusia harus mengambil alih?

Workshop ITU mengenai secure agentic AI pada September membahas area yang serupa, termasuk security and trust challenges, risk management, security framework dan metode evaluasi untuk memastikan agentic system dapat diuji secara layak.

Batas security akhirnya tidak berhenti pada model. Batas tersebut dapat mengikuti seluruh rangkaian tindakan yang diizinkan kepada AI.

Tim Cybersecurity Perlu Memahami Workflow

Perubahan ini menciptakan kebutuhan skill yang cukup menarik.

Orang yang menguji agentic system membutuhkan pemahaman AI untuk mengetahui bagaimana agent menggunakan context dan mengambil keputusan. Namun mereka juga tetap membutuhkan kemampuan cybersecurity yang sudah dikenal: identity, access control, application security, data protection, logging dan security testing.

Bedanya, sekarang mereka perlu berpikir dalam rangkaian.

Bayangkan agent membaca email, mengambil dokumen, memperbarui internal system lalu mengirim respons. Setiap tindakan mungkin sah jika dilihat sendiri-sendiri. Kombinasinya belum tentu aman.

Security assessment perlu melihat apa yang dapat dilakukan agent sepanjang workflow, termasuk ketika dua instruksi bertabrakan atau informasi dari satu tahap memengaruhi tahap berikutnya.

Pertanyaan red team pun bergeser dari “Bisakah model dibuat mengatakan sesuatu yang aneh?” menjadi “Bisakah sistem ini dibuat melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan?”

Sesi pengujiannya mungkin menjadi sedikit lebih menarik.

Latih Sistemnya, Bukan Hanya Prompt-nya

Agentic AI security sangat cocok untuk pembelajaran praktis.

Peserta dapat diberikan simulated agent yang terhubung ke beberapa tool. Mereka lalu memetakan permission, memeriksa data yang dapat dijangkau dan menguji respons agent terhadap instruksi yang menyesatkan. Setelah itu, peserta harus merancang control tanpa membuat agent kehilangan seluruh kegunaannya.

Latihan tersebut menggabungkan pemahaman AI dengan judgment cybersecurity yang sudah dikenal.

Model seperti ini relevan dengan ITSEC Cyber & AI Academy, tempat kemampuan cybersecurity dan AI dapat dilatih bersama melalui skenario yang mendekati cara sistem digunakan dalam lingkungan kerja.

Tidak semua profesional cybersecurity perlu berubah menjadi AI researcher.

Namun organisasi membutuhkan orang yang mampu melihat autonomous workflow lalu tahu di bagian mana pertanyaan sulit perlu diajukan.

Pelajari program cybersecurity dan AI berbasis praktik di ITSEC Cyber & AI Academy.

Referensi: NIST: AI Agent Enrichment Workflow at the National Vulnerability Database, 17 September 2026 · ITU: Advancing Standardization for Secure Agentic AI, 7 September 2026 · NIST: AI Agent Standards Initiative

Share this post

You may also like

Cara Kerja Application Security dalam Menjaga Keamanan Sistem dan Data Bisnis
Cybersecurity

Cara Kerja Application Security dalam Menjaga Keamanan Sistem dan Data Bisnis

PENDAHULUAN Saat ini, aplikasi berada di pusat operasional bisnis digital. Mulai dari mobile banking dan platform e-commerce hingga sistem internal perusahaan, organisasi sangat bergantung pada aplikasi untuk melayani pelanggan dan mengelola data. Namun, seiring aplikasi menjadi semakin kompleks dan saling terhubung, aplikasi juga menjadi salah satu target paling umum bagi serangan siber. Faktanya, aplikasi web bertanggung jawab atas sebagian besar insiden kebocoran data di seluruh dunia. Laporan Verizon 2024 Data Breach Investigations Report menunjukkan bahwa pelaku kejahatan siber sering mengeksploitasi aplikasi web sebagai jalur utama serangan. Ancaman yang terus meningkat ini menimbulkan pertanyaan penting:Apakah aplikasi Anda benar-benar aman dari ancaman siber modern? Salah satu cara paling efektif untuk melindungi aplikasi adalah melalui application security, yaitu pendekatan proaktif untuk mengidentifikasi dan memperbaiki kerentanan sebelum penyerang dapat mengeksploitasinya. Sumber: verizon.com [https://www.verizon.com/business/resources/reports/dbir/],  CONTOH NYATA: KETIKA API YANG TIDAK AMAN MEMBOCORKAN DATA JUTAAN PENGGUNA Pada Januari 2024, seorang peretas menemukan celah keamanan di sistem Trello, tepatnya pada bagian aplikasi yang disebut REST API. API ini memiliki "pintu" yang tidak sengaja dibiarkan terbuka, artinya siapa pun bisa mengaksesnya tanpa perlu login

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Apr 17, 2026 6 minutes read
Cloud Misconfiguration Masih Jadi Penyebab Utama Kebocoran Data: Begini Cara Tetap Aman
Cybersecurity

Cloud Misconfiguration Masih Jadi Penyebab Utama Kebocoran Data: Begini Cara Tetap Aman

Pendahuluan Berapa banyak storage bucket, IAM role, atau API endpoint di lingkungan cloud organisasi Anda yang bisa Anda pastikan sudah dikonfigurasi dengan benar saat ini. Sebagian besar pemimpin keamanan tidak bisa menjawab pertanyaan ini dengan yakin, dan ketidakpastian itulah yang justru dimanfaatkan penyerang. Riset industri terbaru menunjukkan gambaran yang cukup jelas. Verizon Data Breach Investigations Report mengaitkan lima belas persen breach langsung dengan cloud misconfiguration, sementara analisis terpisah dari SentinelOne menemukan bahwa sembilan puluh lima persen kegagalan keamanan cloud berasal dari human error, bukan dari kelemahan platform itu sendiri. Gartner sudah bertahun-tahun menyampaikan hal serupa, memproyeksikan bahwa hingga 2026, sembilan puluh sembilan persen kegagalan keamanan cloud akan menjadi kesalahan pengguna, bukan penyedia layanan. ITSEC Asia, perusahaan cybersecurity terkemuka di Indonesia, bekerja sama dengan organisasi di Indonesia, Singapura, Australia, dan UAE yang tengah berlomba memodernisasi infrastruktur mereka, dan polanya konsisten di mana-mana. Tim bergerak cepat untuk pindah ke cloud, sementara governance yang dibutuhkan untuk mengamankan lingkungan tersebut diam-diam tertinggal di belakang. Source: Cloud Security Statistics 2026: Key Data and Trends Alasan Misconfiguration Masih Mengalahkan Malware

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Agt 07, 2026 5 minutes read
Serangan Supply Chain Semakin Marak: Mengapa Third-Party Risk Butuh Continuous Testing
Cybersecurity

Serangan Supply Chain Semakin Marak: Mengapa Third-Party Risk Butuh Continuous Testing

Pendahuluan Keterlibatan pihak ketiga dalam data breach meningkat dua kali lipat dari 15 persen menjadi 30 persen dalam satu tahun, lonjakan tahunan terbesar yang pernah tercatat dalam Verizon 2025 Data Breach Investigations Report. Ini bukan tren yang bertahap, melainkan pergeseran struktural dalam cara attacker menjangkau target mereka. Alih-alih membobol perusahaan secara langsung, mereka menyasar vendor, software dependency, atau service provider yang diam-diam berada di dalam trust boundary perusahaan tersebut. Sebagai perusahaan cybersecurity terdepan di Indonesia, ITSEC Asia bekerja sama dengan organisasi di sektor finance, healthcare, dan technology yang baru menyadari bahwa pertahanan internal mereka sendiri ternyata bukan gambaran utuh, karena sebuah breach bisa bermula dari tiga vendor jauhnya dan tetap berujung tepat di meja mereka. Source: Supply Chain Attack Statistics 2026, Stingrai Research · Supply Chain Attack Statistics for 2026, Swif Angka-Angka di Balik Pergeseran Ini Supply chain compromise kini rata-rata menelan biaya 4,91 juta dolar AS dan membutuhkan waktu 267 hari untuk diidentifikasi dan ditangani, lifecycle terpanjang dari semua breach vector yang tercatat dalam IBM's Cost of a Data Breach Report. Artinya,

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Jul 31, 2026 4 minutes read

Receive weekly
updates on new posts

Subscribe