Logo
Cybersecurity

Cloud Security Dimulai dari Lapisan di Bawahnya

Mengetahui lokasi setiap security setting memang berguna. Memahami apa yang terjadi di balik setting tersebut jauh lebih membantu ketika sistem mulai berperilaku aneh.

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 28, 2026
Cloud Security Dimulai dari Lapisan di Bawahnya

Seorang cloud security engineer melihat traffic tidak biasa menuju sebuah aplikasi. Access policy terlihat benar. Workload configuration juga normal. Tidak ada sesuatu yang langsung terlihat bermasalah.

Investigasi kemudian bergerak ke area yang sedikit lebih rumit.

Request tersebut resolve ke mana? Route apa yang dilewati? Identity apa yang digunakan workload? Protocol apa yang membawa koneksinya? Apakah traffic melewati edge service, private network atau cloud environment lain?

Cloud console bisa menjawab sebagian pertanyaan tersebut. Sisanya membutuhkan pemahaman network dan infrastructure.

Program ITU Academy yang berlangsung sampai 28 September 2026 memberi gambaran menarik tentang betapa terhubungnya teknologi tersebut. Kurikulumnya menggabungkan cloud dan edge computing dengan IPv6, QUIC, DNS, SD-WAN, fixed dan mobile broadband, IoT, AI serta cybersecurity. ITU Academy

Untuk pengembangan tenaga cybersecurity, kombinasi tersebut masuk akal. Cloud security membutuhkan orang yang memahami teknologi di bawah cloud.

Abstraction Tidak Menghapus Fundamental

Cloud service sangat baik dalam menyembunyikan kompleksitas infrastructure. Memang itu salah satu manfaatnya.

Security team tidak selalu mendapatkan kemewahan yang sama.

DNS configuration dapat mengarahkan user ke tujuan yang keliru. Routing decision dapat membuka service yang seharusnya tidak terekspos. Identity control menentukan workload mana yang boleh berkomunikasi. Encryption melindungi koneksi, sementara logging menentukan apakah investigator bisa menyusun kembali kejadian setelah insiden.

Karena itu, skill cloud security perlu mencakup beberapa lapisan:

  • Network fundamental seperti addressing, routing dan segmentation
  • DNS dan cara aplikasi menemukan service
  • Identity dan permission untuk user maupun workload
  • Cloud dan edge architecture
  • Encryption dan secure communication
  • Logging serta telemetry pada distributed system
  • Perilaku aplikasi dan API

Tidak semua orang harus menjadi expert di seluruh area tersebut. Namun tim membutuhkan technical language yang cukup untuk mengetahui lokasi sebenarnya dari sebuah masalah.

Kalau tidak, “cloud-nya bermasalah” bisa menjadi diagnosis yang bertahan cukup lama.

Pengetahuan Produk Memiliki Masa Pakai

Skill yang spesifik terhadap platform tetap dibutuhkan. Engineer harus memahami sistem yang benar-benar digunakan perusahaan.

Masalah muncul ketika familiar dengan sebuah produk dianggap sama dengan memahami kemampuan dasarnya.

Interface berubah. Nama service berganti. Architecture baru muncul. Profesional yang memahami alasan segmentation diperlukan dapat membawa cara berpikir tersebut ke environment lain. Orang yang memahami DNS dapat menginvestigasi resolution problem baik aplikasi berjalan di data centre, public cloud maupun edge.

NICE Framework dari NIST menggunakan pendekatan serupa. Cybersecurity work dijelaskan melalui Task, Knowledge dan Skill statements yang dapat diterapkan pada berbagai role dan organisasi. NIST

Pendekatan tersebut cocok untuk cloud security karena teknologinya akan terus berubah lebih cepat daripada kurikulum statis.

Latih Peserta Melewati Batas Teknologi

Cloud security training menjadi lebih realistis ketika peserta harus berpindah antar technical layer.

Berikan cloud-hosted application dengan access problem. Security configuration yang terlihat paling jelas ternyata sudah benar, sementara masalah sebenarnya berada di DNS, workload identity atau network routing. Peserta harus menelusuri jalurnya, menguji asumsi lalu menentukan tim mana yang perlu bertindak.

Latihan tersebut mengembangkan kemampuan yang lebih luas daripada sekadar mengikuti langkah konfigurasi. Peserta belajar berpikir lintas sistem.

Pendekatan ini relevan dengan pembelajaran praktis di ITSEC Cyber & AI Academy, tempat hands-on environment dapat menghubungkan cloud, network dan cybersecurity melalui skenario yang lebih mendekati perilaku infrastructure sebenarnya.

Cloud platform membuat infrastructure lebih mudah digunakan.

Infrastructure di bawahnya tetap perlu dipahami.

Pelajari program cybersecurity dan AI berbasis praktik di ITSEC Cyber & AI Academy.

Referensi: ITU Academy: Future Fixed and Mobile Broadband Internet, Cloud Computing and IoT/AI, 21–28 September 2026 · NIST: Getting Started With the NICE Framework · NIST: NICE Framework Components v2.2.0

Share this post

You may also like

Bagaimana Continuous Pentesting Membantu Memenuhi Persyaratan PCI DSS?
Cybersecurity

Bagaimana Continuous Pentesting Membantu Memenuhi Persyaratan PCI DSS?

Bagi organisasi yang memproses, menyimpan atau mentransmisikan data kartu pembayaran, menjaga keamanan informasi pelanggan bukan hanya kebutuhan bisnis tetapi juga kewajiban kepatuhan. Salah satu standar yang paling banyak diterapkan di dunia adalah Payment Card Industry Data Security Standard (PCI DSS). Namun, seiring berkembangnya ancaman siber dan semakin dinamisnya lingkungan teknologi, memenuhi persyaratan PCI DSS tidak lagi cukup dilakukan melalui assessment yang bersifat periodik. Organisasi membutuhkan visibilitas yang lebih berkelanjutan terhadap risiko yang terus berubah. Di sinilah Continuous Pentesting mulai memainkan peran yang semakin penting. APA ITU PCI DSS? PCI DSS merupakan standar keamanan yang dirancang untuk membantu organisasi melindungi data pemegang kartu pembayaran. Standar ini berlaku bagi berbagai pihak yang terlibat dalam ekosistem pembayaran, termasuk: * Merchant. * Bank dan institusi keuangan. * Payment processor. * Service provider. * Organisasi yang memproses atau menyimpan data kartu. Tujuan utama PCI DSS bukan sekadar memenuhi persyaratan audit, melainkan memastikan data sensitif pelanggan tetap terlindungi. MENGAPA PENETRATION TESTING PENTING DALAM PCI DSS? Security testing merupakan salah satu komponen penting dalam PCI DSS. Melalui penetration testing, organisasi dapat: *

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Jun 15, 2026 — 5 minutes read
Cara Kerja Application Security dalam Menjaga Keamanan Sistem dan Data Bisnis
Cybersecurity

Cara Kerja Application Security dalam Menjaga Keamanan Sistem dan Data Bisnis

PENDAHULUAN Saat ini, aplikasi berada di pusat operasional bisnis digital. Mulai dari mobile banking dan platform e-commerce hingga sistem internal perusahaan, organisasi sangat bergantung pada aplikasi untuk melayani pelanggan dan mengelola data. Namun, seiring aplikasi menjadi semakin kompleks dan saling terhubung, aplikasi juga menjadi salah satu target paling umum bagi serangan siber. Faktanya, aplikasi web bertanggung jawab atas sebagian besar insiden kebocoran data di seluruh dunia. Laporan Verizon 2024 Data Breach Investigations Report menunjukkan bahwa pelaku kejahatan siber sering mengeksploitasi aplikasi web sebagai jalur utama serangan. Ancaman yang terus meningkat ini menimbulkan pertanyaan penting:Apakah aplikasi Anda benar-benar aman dari ancaman siber modern? Salah satu cara paling efektif untuk melindungi aplikasi adalah melalui application security, yaitu pendekatan proaktif untuk mengidentifikasi dan memperbaiki kerentanan sebelum penyerang dapat mengeksploitasinya. Sumber: verizon.com [https://www.verizon.com/business/resources/reports/dbir/],  CONTOH NYATA: KETIKA API YANG TIDAK AMAN MEMBOCORKAN DATA JUTAAN PENGGUNA Pada Januari 2024, seorang peretas menemukan celah keamanan di sistem Trello, tepatnya pada bagian aplikasi yang disebut REST API. API ini memiliki "pintu" yang tidak sengaja dibiarkan terbuka, artinya siapa pun bisa mengaksesnya tanpa perlu login

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Apr 17, 2026 — 6 minutes read
AI Penetration Testing vs Penetration Testing Tradisional: Apa Bedanya?
Cybersecurity

AI Penetration Testing vs Penetration Testing Tradisional: Apa Bedanya?

Transformasi digital membuat lingkungan TI semakin kompleks. Infrastruktur cloud berkembang dengan cepat, aplikasi baru terus bermunculan dan permukaan serangan semakin luas. Di saat yang sama, pelaku ancaman juga memanfaatkan otomatisasi dan kecerdasan buatan untuk menemukan celah keamanan dengan lebih cepat. Selama bertahun-tahun, penetration testing tradisional telah menjadi salah satu metode yang paling efektif untuk mengidentifikasi kerentanan sebelum dimanfaatkan oleh penyerang. Namun, dengan perubahan yang terjadi hampir setiap hari, banyak organisasi mulai mencari pendekatan yang dapat memberikan visibilitas secara lebih berkelanjutan. Hal inilah yang mendorong munculnya AI Penetration Testing. Lalu, apa perbedaan antara AI Penetration Testing dan penetration testing tradisional? Apakah AI akan menggantikan peran ethical hacker? Jawabannya tidak sesederhana itu. MEMAHAMI PENETRATION TESTING TRADISIONAL Penetration testing tradisional merupakan proses simulasi serangan yang dilakukan oleh para profesional keamanan siber untuk mengevaluasi kelemahan dalam sistem, aplikasi maupun infrastruktur organisasi. APA YANG DILAKUKAN DALAM PENETRATION TESTING? Secara umum, sebuah engagement penetration testing mencakup: * Pengumpulan informasi dan reconnaissance. * Identifikasi kerentanan. * Eksploitasi dan analisis jalur serangan. * Pengujian privilege escalation. * Verifikasi manual terhadap temuan.

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Jun 15, 2026 — 5 minutes read

Receive weekly
updates on new posts

Subscribe