Logo
Cybersecurity

Ketika Sistem Pemesanan Tiket Diretas, Celahnya Bisa Berada di Pihak Ketiga

Insiden Amadeus memperlihatkan bagaimana kelemahan pada penyedia teknologi dapat mengekspos data penumpang dari beberapa maskapai, meskipun sistem IT internal mereka tidak mengalami peretasan.

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Nov 04, 2026
Ketika Sistem Pemesanan Tiket Diretas, Celahnya Bisa Berada di Pihak Ketiga

Proses pemesanan tiket pesawat melibatkan banyak sistem yang tidak terlihat oleh penumpang. Di balik email konfirmasi tiket, terdapat platform reservasi, sistem layanan penumpang dan berbagai integrasi yang membantu maskapai mengelola pemesanan, tiket serta proses check-in.

Infrastruktur yang saling terhubung ini menjadi perhatian setelah muncul insiden keamanan siber yang melibatkan Amadeus, penyedia teknologi perjalanan global.

Pada 4 November 2026, Reuters melaporkan bahwa Singapore Airlines menyebut sekitar 46.000 catatan pemesanan berpotensi terdampak akses tidak sah terhadap data di platform Amadeus. Informasi yang diakses dilaporkan mencakup nama pelanggan, nomor referensi pemesanan, rencana perjalanan dan kelas penerbangan. Pada sekitar 620 catatan, informasi tambahan seperti alamat email, nomor telepon, dokumen perjalanan dan nomor keanggotaan KrisFlyer juga berpotensi terekspos. [1][2]

Singapore Airlines menyatakan bahwa sistem IT internalnya tidak diretas. Maskapai tersebut juga menyampaikan bahwa tidak ada pemesanan yang diubah dan informasi rekening bank maupun kartu kredit tidak terekspos.

Sebelumnya, sejumlah maskapai lain juga melaporkan potensi dampak dari insiden yang melibatkan penyedia teknologi yang sama. Japan Airlines menyebut sekitar 92.000 pelanggan berpotensi terdampak, sementara Cathay Pacific melaporkan sekitar 53.000 pemesanan. ANA dan Malaysia Airlines juga telah menyampaikan adanya potensi paparan data pelanggan. [3][4][5]

Angka tersebut menggunakan kategori data dan satuan yang berbeda, sehingga tidak tepat jika dijumlahkan sebagai satu angka total penumpang terdampak.

Risiko di balik ekosistem pemesanan yang saling terhubung

Maskapai bergantung pada penyedia teknologi eksternal untuk menjalankan berbagai fungsi penting. Platform reservasi dapat memproses nama penumpang, tanggal perjalanan, detail penerbangan dan nomor referensi pemesanan. Sistem tersebut juga harus bertukar data dengan aplikasi dan proses operasional maskapai.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai keamanan pihak ketiga: seberapa baik organisasi melindungi data ketika pemrosesannya dilakukan di luar jaringan internal?

Perusahaan dapat memiliki pengamanan internal yang baik, tetapi tetap menghadapi risiko dari lingkungan teknologi milik mitra atau pemasok. Karena itu, evaluasi vendor perlu mencakup aliran data, hak akses, autentikasi, integrasi sistem dan prosedur pelaporan insiden.

Nomor referensi pemesanan dan detail perjalanan juga merupakan informasi sensitif. Meski data pembayaran atau kata sandi tidak terekspos, informasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk membuat pesan phishing yang meyakinkan, menyamar sebagai penyedia layanan atau mengirimkan pemberitahuan perjalanan palsu.

Apa yang perlu dilakukan organisasi?

Pengelolaan keamanan pihak ketiga perlu mencakup beberapa langkah berikut:

  • Petakan aliran data: Ketahui informasi apa yang dibagikan kepada setiap penyedia dan di mana data tersebut diproses.

  • Evaluasi hak akses: Batasi akses mitra hanya pada sistem dan informasi yang diperlukan.

  • Uji permukaan serangan digital: Evaluasi aplikasi, antarmuka dan jalur akses yang masuk dalam ruang lingkup pengujian resmi.

  • Pantau risiko pemasok: Tetapkan persyaratan keamanan, jalur pelaporan insiden dan evaluasi berkala.

  • Siapkan respons insiden: Susun prosedur komunikasi pelanggan dan penanganan jika terjadi paparan data.

Peran AI-assisted penetration testing

Evaluasi keamanan pihak ketiga membutuhkan bukti teknis mengenai bagaimana sebuah lingkungan digital dapat dieksploitasi. Peninjauan kebijakan dan dokumen kepatuhan tetap diperlukan, tetapi organisasi juga perlu menguji aplikasi, antarmuka dan jalur akses yang menghubungkan sistem mereka.

Di sinilah Bronyx AI, platform pengujian penetrasi otonom berbasis AI dari ITSEC, dapat mendukung pengujian keamanan yang telah mendapatkan otorisasi. Platform ini membantu organisasi mengevaluasi permukaan serangan digital dan mengidentifikasi kelemahan yang mungkin tidak terlihat dalam pemeriksaan rutin.

Pengujian berbasis AI tidak menggantikan proses evaluasi vendor, tata kelola akses atau penanganan insiden. Pendekatan ini menambahkan lapisan pengujian teknis agar organisasi dapat memahami eksposur dan memvalidasi pengendalian keamanannya.

Insiden Amadeus menjadi pengingat bahwa batas keamanan sebuah perusahaan tidak berhenti pada infrastruktur miliknya sendiri. Setiap penyedia yang terhubung dengan data sensitif atau proses bisnis kritis perlu mendapat perhatian yang sama.

Kenali eksposur Anda. Uji pertahanan Anda. Amankan ekosistem digital Anda.

Pelajari lebih lanjut tentang Bronyx AI dan kapabilitas pengujian penetrasi berbasis AI dari ITSEC.

Referensi

  1. Reuters, Singapore Airlines says 46,000 booking records affected by Amadeus breach, 4 November 2026. Baca artikel

  2. Channel News Asia, About 46,000 SIA booking records accessed in data breach involving travel tech company Amadeus, 3 November 2026. Baca artikel

  3. Japan Airlines, Regarding Unauthorized Access to Amadeus Passenger Service System and Our Response, 30 Oktober 2026. Baca pernyataan

  4. Reuters, Cathay Pacific says Amadeus breach affected 53,000 bookings, 30 Oktober 2026. Baca artikel

  5. Malaysia Airlines, Cybersecurity Incident Involving Third-Party Technology Provider, 31 Oktober 2026. Baca pernyataan

Share this post

You may also like

Panduan Mengenai CSOC
Cybersecurity

Panduan Mengenai CSOC

Hacks

CSOC adalah akronim untuk Cyber Security Operation Center (Pusat Operasi Keamanan Siber), tetapi hal ini sedikit membingungkan karena tim CSOC juga dapat disebut sebagai Computer Security Incident Response Team (CSIRT) atau Tim Respons Insiden Keamanan Komputer, Computer Incident Response Center (CIRC) atau Pusat Respons Insiden Komputer, Security Operations Center (SOC) atau Pusat Operasi Keamanan, serta disebut Computer Emergency Response Team (CERT) atau Tim Respons Gawat Darurat Komputer. Untuk kepentingan artikel ini, kita akan tetap menggunakan istilah CSOC. CSOC bekerja dalam urusan pertahanan untuk menghadapi aktivitas tidak sah yang terjadi pada jaringan strategis dan kegiatan yang termasuk di dalamnya adalah: pemantauan, deteksi, analisis, serta kegiatan respons dan restorasi. CSOC adalah tim yang terdiri dari analis keamanan jaringan yang diorganisir untuk pekerjaan mendeteksi, menganalisis, merespons, melaporkan, dan mencegah insiden keamanan jaringan selama 24 jam, 7 hari dalam seminggu, dan 365 hari dalam setahun. Terdapat berbagai jenis CSOC yang dikelompokkan berdasarkan model organisasional dan operasional mereka, bukan berdasarkan seperangkat kemampuan utama mereka, jadi mari kita dalami dan melihat lebih dekat berbagai jenis CSOC. CSOC VIRTUAL Nama

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Jul 10, 2023 — 9 minutes read
Karyawan Mau Meningkatkan Skill Cybersecurity. Cara Melatihnya Perlu Ikut Berubah.
Cybersecurity

Karyawan Mau Meningkatkan Skill Cybersecurity. Cara Melatihnya Perlu Ikut Berubah.

Cybersecurity training punya reputasi yang agak sulit. Bagi sebagian karyawan, bentuknya masih berupa modul tahunan, beberapa peringatan yang sudah familiar lalu kuis yang jawabannya terasa sangat dekat dengan slide sebelumnya. Sementara itu, situasi di tempat kerja sudah jauh lebih rumit. Data terbaru ENISA untuk Cybersecurity Month menunjukkan 74% karyawan yang disurvei menerima email, pesan, panggilan suara atau link mencurigakan selama enam bulan terakhir. Phishing masih paling banyak ditemui, tetapi ada pula upaya pencurian data pribadi, password, AI-generated scam, malware dan ransomware. ENISA [https://www.enisa.europa.eu/news/cybersecurity-month-work-employees-skills-under-the-looking-glass] Di sisi lain, hanya 45% responden mengatakan organisasinya rutin memberikan informasi atau update mengenai cybersecurity. Masalahnya ternyata bukan karena orang tidak ingin belajar. Sebanyak 85% karyawan menyatakan tertarik meningkatkan skill cybersecurity mereka. ENISA [https://www.enisa.europa.eu/news/cybersecurity-month-work-employees-skills-under-the-looking-glass] Ada gap antara kebutuhan, minat dan cara training diberikan. SALAH SATU HAMBATAN TERBESAR TERNYATA WAKTU Di antara responden yang melihat adanya hambatan dalam meningkatkan kemampuan cybersecurity, 26% menyebut sulitnya mencari waktu di tengah pekerjaan, lebih tinggi dibanding biaya training sebesar 16%. Hambatan lain adalah kurangnya informasi mengenai training serta dukungan employer. ENISA [https://www.enisa.europa.eu/news/cybersecurity-month-work-employees-skills-under-the-looking-glass] Artinya, program cybersecurity harus bisa hidup berdampingan dengan

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Okt 02, 2026 — 3 minutes read
Apa yang Dilakukan oleh Information Security Process Manager dan Mengapa Kebanyakan Organisasi Salah
Cybersecurity

Apa yang Dilakukan oleh Information Security Process Manager dan Mengapa Kebanyakan Organisasi Salah

PENDAHULUAN Ada sebuah angka yang patut direnungkan: organisasi yang mendeteksi pelanggaran keamanan dengan program AI dan otomatisasi keamanan dapat menghemat rata-rata USD 2,2 juta dibandingkan mereka yang tidak menggunakannya. Namun peran operasional yang bertanggung jawab untuk membangun, memiliki, dan terus meningkatkan proses deteksi dan respons tersebut, yakni Manajer Proses Keamanan Informasi, tetap menjadi salah satu posisi yang paling kurang terdefinisi secara formal dalam keamanan perusahaan. Kebanyakan organisasi sudah memiliki alatnya. Sangat sedikit yang memiliki kepemilikan terstruktur yang membuat alat-alat tersebut bekerja bersama sebagai sebuah sistem. ITSEC Asia, pemimpin keamanan siber di Indonesia dengan operasi di Singapura, Australia, dan UEA, bekerja langsung dengan organisasi untuk mengisi celah ini: mengubah investasi keamanan yang terfragmentasi menjadi program yang terkelola, terukur, dan benar-benar efektif. Sumber: IBM Cost of a Data Breach Report 2024 [https://www.ibm.com/reports/data-breach] APA YANG SEBENARNYA DIKELOLA OLEH PERAN INI Manajer Proses Keamanan Informasi adalah arsitek operasional dari sebuah program keamanan. Jika seorang CISO menetapkan arah dan seorang analis keamanan menjalankan tugas-tugas individual, maka Manajer Proses bertanggung jawab untuk mendefinisikan, mendokumentasikan, meningkatkan, dan mengatur proses-proses yang menghubungkan strategi dengan

|
Mei 25, 2026 — 5 minutes read

Receive weekly
updates on new posts

Subscribe