Peluncuran Perdana Roadshow Gerakan Nasional Ketahanan Siber: Executive Cyber Resilience Tabletop
ITSEC Asia, perusahaan keamanan siber terdepan di Indonesia, bekerja sama dengan ADIGSI mengumpulkan para eksekutif senior untuk mengikuti simulasi krisis siber selama satu hari penuh. Kegiatan ini merupakan bagian dari Roadshow Gerakan Nasional Ketahanan Siber (GNKS), dan apa yang terjadi di dalamnya sungguh membuka mata sekaligus mengingatkan kita akan betapa seriusnya ancaman yang ada.

Apa Itu GNKS Roadshow?
Roadshow Gerakan Nasional Ketahanan Siber adalah sebuah inisiatif nasional yang berlangsung sepanjang tahun, digagas bersama oleh PT ITSEC Asia Tbk (IDX: CYBR) dan ADIGSI (Asosiasi Digitalisasi dan Keamanan Siber Indonesia) sebagai rangkaian menuju ITSEC Cybersecurity & AI Summit 2026.
Program ini menyambangi enam kota di Indonesia, yakni Banten, Pontianak, Bali, Yogyakarta, Medan, dan Makassar, dengan sasaran utama para eksekutif, pemilik risiko, dan pemimpin operasional yang bertanggung jawab atas kesiapan siber organisasi mereka.
Edisi Banten sendiri digelar pada Kamis, 30 April 2026, di JHL Solitaire Gading Serpong, Tangerang, dan dihadiri oleh sekitar 100 peserta dalam format workshop meja bundar.
Apa yang Dilakukan Para Peserta?
Inti dari acara ini adalah Executive Tabletop Exercise, sebuah simulasi krisis berbasis skenario yang dirancang untuk menempatkan para pengambil keputusan langsung di tengah situasi serangan siber yang realistis, lalu menguji bagaimana mereka meresponsnya secara langsung.
Latihan ini berjalan melalui lima tahap yang saling berkaitan, dimulai dari pemahaman lanskap ancaman, berlanjut ke workshop insiden secara langsung, hingga puncaknya berupa simulasi krisis skala penuh. Setiap tahap membangun pemahaman dari tahap sebelumnya, mendorong para eksekutif untuk berpikir secara kolaboratif, mengambil keputusan penting di bawah tekanan, dan pada akhirnya merefleksikan seperti apa kepemimpinan siber yang sesungguhnya tangguh.
Yang membuat latihan ini berbeda adalah fokusnya pada hasil yang nyata dan bisa langsung digunakan. Setiap organisasi yang ikut serta pulang membawa tiga hal konkret yaitu matriks risiko spesifik sektor, konsep desain keamanan jangka pendek, dan penilaian kompetensi tim, memastikan bahwa pelajaran dari hari itu tidak berhenti di ruang simulasi saja.
Pelajaran dari Simulasi Serangan Siber pada Bank Digital
Simulasi ini berpusat pada sebuah bank digital fiktif berukuran menengah hingga besar, yang dirancang menyerupai jenis organisasi yang banyak dipimpin atau didukung oleh para peserta. Serangan berlangsung dalam empat fase, dari seorang karyawan yang membuka file mencurigakan, munculnya anomali awal pada sistem, hingga gangguan operasional total, di mana peserta mengambil peran sebagai tim respons krisis dan membuat keputusan nyata di setiap titik eskalasi.
Apa yang terungkap dari simulasi ini cukup mengejutkan. Tim-tim secara konsisten kesulitan dalam mendeteksi ancaman sejak dini, jalur eskalasi tidak jelas, dan informasi tersebar di berbagai kelompok tanpa ada satu sumber kebenaran yang terpusat. Yang paling signifikan, penanganan teknis dan dampak bisnis diperlakukan sebagai dua hal yang terpisah. Padahal dalam insiden nyata, pemisahan seperti ini bisa menjadi perbedaan antara krisis yang terkendali dan yang lepas kendali sepenuhnya.
Mengapa Ini Penting bagi Organisasi di Indonesia?
ITSEC Asia adalah perusahaan keamanan siber terdepan di Indonesia yang selama lebih dari 15 tahun telah menghadirkan solusi keamanan menyeluruh di berbagai sektor mulai dari keuangan, telekomunikasi, energi, manufaktur, hingga pemerintahan. Saat ini perusahaan melayani lebih dari 100 klien aktif di berbagai negara dan tercatat di Bursa Efek Indonesia (IDX: CYBR).
ADIGSI berperan sebagai platform nasional yang menghubungkan para pelaku industri digital, praktisi keamanan siber, regulator, dan pemangku kepentingan utama, menjadikannya mitra yang tepat untuk gerakan kesadaran nasional sebesar ini. Bersama-sama, keduanya merancang Roadshow GNKS berdasarkan satu keyakinan mendasar: keamanan siber bukan lagi urusan IT semata, melainkan sudah menjadi isu ketahanan bisnis secara keseluruhan.
Ancaman yang sama bisa menghasilkan dampak yang sangat berbeda. Perbedaannya bukan terletak pada besarnya anggaran keamanan atau kecanggihan alat yang digunakan, melainkan pada seberapa cepat sebuah organisasi mengenali ancaman itu dan seberapa jelas langkah yang diambilnya.
Apa yang Diharapkan Dilakukan Peserta Setelahnya?
Latihan ini tidak berakhir begitu saja saat simulasi selesai. Para peserta pulang membawa serangkaian langkah tindak lanjut yang terstruktur dalam tiga rentang waktu, mengubah pelajaran hari itu menjadi peta jalan yang bisa langsung dijalankan.
Dalam jangka pendek, fokusnya adalah membangun fondasi awal, membentuk CSIRT dengan peran yang jelas, menunjuk Incident Commander, serta mendokumentasikan jalur eskalasi dan protokol respons yang benar-benar bisa diandalkan saat tekanan datang. Dalam jangka menengah, organisasi diharapkan membangun kapabilitas melalui latihan tabletop yang rutin, pelatihan kesadaran lintas fungsi, serta penguatan protokol komunikasi antar divisi. Untuk jangka panjang, prioritasnya adalah ketahanan organisasi yang lebih dalam yaitu pemantauan terpusat di seluruh lingkungan jaringan, endpoint, dan cloud, deteksi ancaman yang proaktif, serta latihan siber teknis yang sekaligus menguji infrastruktur dan kepemimpinan.
Secara keseluruhan, rangkaian tindak lanjut ini merupakan pesan inti bahwa ketahanan siber bukan sesuatu yang cukup dilakukan sekali, melainkan sebuah disiplin yang harus dibangun secara sadar, dari level paling atas ke bawah.
Perjalanan Berlanjut
Refleksi penutup dari Simulasi Operasi Ghost Protocol layak disampaikan secara gamblang: ancaman yang sama bisa menghasilkan hasil yang sangat berbeda, tergantung sepenuhnya pada seberapa cepat sebuah organisasi melihatnya dan bertindak. Bukan soal firewall yang lebih canggih. Bukan soal anggaran keamanan yang lebih besar. Yang menentukan adalah kecepatan dalam mengenali dan kejernihan dalam merespons.
Ekonomi digital Indonesia terus melaju pesat. Permukaan ancaman pun meluas seiring dengan itu. Organisasi yang masih memandang keamanan siber sebagai beban biaya IT, bukan sebagai kapabilitas ketahanan bisnis, akan merasakan sendiri apa yang dialami para peserta Ghost Protocol dalam lingkungan simulasi yang aman itu.
Pertanyaannya bukan lagi apakah organisasi Anda akan menghadapi insiden siber yang serius. Pertanyaannya adalah: apakah Anda sudah memutuskan apa yang akan terjadi selanjutnya?
Ikuti Executive Tabletop Exercise Berikutnya di Makassar
GNKS Roadshow terus berlanjut ke berbagai kota di Indonesia sepanjang 2026. Kota berikutnya adalah Makassar.
Jika organisasi Anda ingin mengikutsertakan para eksekutif dalam latihan tabletop ini, atau ingin membawa program ini langsung ke internal perusahaan, pendaftaran untuk sesi Makassar kini telah dibuka.
👉 Daftar untuk Event Makassar: qrfy.io/r/PejuangCyberMakassar
.png)
.png)
