Logo
Cybersecurity

Post-Quantum Cryptography Readiness with ITSEC

Discover how ITSEC helps organisations prepare for the post-quantum era with future-proof cryptography and cyber resilience strategies.

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Jul 11, 2025
Post-Quantum Cryptography Readiness with ITSEC

Selama beberapa dekade, public-key cryptography telah menjadi tulang punggung dalam melindungi informasi sensitif, mulai dari transaksi keuangan, data pribadi, komunikasi korporat, hingga rahasia negara. Saat Anda login ke aplikasi perbankan yang aman, belanja online, atau mengakses situs terenkripsi seperti HTTPS, public key infrastructure (PKI) bekerja di balik layar untuk menjaga data Anda dari kejahatan siber. Namun, kemunculan quantum computing menghadirkan tantangan baru yang bersifat transformatif dan berpotensi mengganggu fondasi kepercayaan digital ini.

The Quantum Revolution

Quantum computers mampu melakukan komputasi kompleks dengan kecepatan jauh melampaui superkomputer paling canggih saat ini. Meski teknologi ini menjanjikan terobosan besar di bidang penemuan obat, layanan kesehatan, material science, dan artificial intelligence (AI), kemampuannya juga menimbulkan ancaman serius bagi sistem kriptografi yang digunakan saat ini.

Dengan kekuatannya, quantum computers berpotensi meretas sistem public-key cryptography yang banyak digunakan saat ini seperti RSA dan ECC. Ini berarti, berbagai infrastruktur penting, seperti jaringan energi, sistem keuangan, dan jaringan komunikasi pemerintah, dapat terekspos dan disusupi.

Jika sistem public-key cryptography berhasil ditembus, maka digital signature dan digital certificate bisa dipalsukan, meruntuhkan kepercayaan pada layanan perbankan, kesehatan, dan pemerintahan. Serangan berbasis quantum juga dapat mengancam miliaran perangkat yang terhubung (IoT), mulai dari smart home hingga Industrial Control Systems (ICS), karena enkripsi konvensional yang digunakan akan menjadi tidak relevan.

Lebih jauh lagi, para pelaku siber maupun aktor negara bisa melakukan serangan "harvest now, decrypt later", mengumpulkan data terenkripsi hari ini untuk didekripsi di masa depan ketika quantum computer sudah tersedia. Ini sangat mengkhawatirkan bagi data yang memerlukan kerahasiaan jangka panjang seperti rekam medis atau rahasia negara.

Para ahli memperkirakan bahwa Q-Day, hari ketika quantum computer mampu menembus enkripsi saat ini, dapat terjadi dalam waktu kurang dari satu dekade. Oleh karena itu, komunitas global kini tengah mendorong pengembangan dan penerapan post-quantum cryptography (PQC), algoritma enkripsi generasi baru yang dirancang untuk tahan terhadap serangan quantum.

Upaya Global Menyongsong Post-Quantum Cryptography

Berbagai negara di dunia telah mengambil langkah nyata untuk menghadapi ancaman quantum computing terhadap keamanan siber.

Di Amerika Serikat, Quantum Computing Cybersecurity Preparedness Act (H.R.7535) telah disahkan menjadi undang-undang pada 21 Desember 2022 (Public Law 117-260). Aturan ini mendorong lembaga federal untuk bermigrasi ke sistem yang menggunakan PQC guna mengantisipasi risiko serangan quantum di masa mendatang. Lembaga-lembaga diwajibkan untuk memetakan kerentanan sistem, mencatat aset kriptografi yang rentan terhadap quantum, dan menyusun strategi adopsi PQC.

Cybersecurity and Infrastructure Security Agency (CISA) juga meluncurkan PQC Initiative pada Juli 2023 untuk membantu sektor infrastruktur kritikal melakukan risk assessment dan perencanaan transisi ke PQC. CISA menyediakan panduan teknis untuk cryptographic inventorying serta pengujian algoritma PQC, menandai kepatuhan terhadap H.R.7535.

Sementara itu, National Institute of Standards and Technology (NIST) pada 13 Agustus 2024 telah meresmikan tiga standar PQC (FIPS 203, 204, 205). Algoritma keempat, HQC, telah terpilih untuk standardisasi pada 11 Maret 2025. NIST juga mendorong transisi segera ke algoritma-algoritma ini.

National Security Agency (NSA) Amerika Serikat mewajibkan penggunaan PQC untuk seluruh pembaruan software dan firmware mulai 2025. Pada 2030, semua sistem kriptografi di bawah kebijakan Commercial National Security Algorithm (CNSA) Suite 2.0 harus menggunakan algoritma PQC secara eksklusif, menghentikan penggunaan algoritma lama seperti RSA dan ECC.

Di Uni Eropa, Commission Recommendation (EU) 2024/1101 yang diadopsi pada 11 April 2024, mendorong negara-negara anggota untuk menyusun strategi nasional penerapan PQC demi melindungi infrastruktur digital dan layanan publik.

Perkembangan di Asia Tenggara

Singapura meluncurkan jaringan tahan-kuantum pertama di kawasan Asia Tenggara, National Quantum-Safe Network Plus (NQSN+), pada 2023. Inisiatif ini merupakan bagian dari Digital Connectivity Blueprint Singapura, dengan target membangun infrastruktur komunikasi quantum-safe pada tahun 2030. NQSN+ menggabungkan dua pendekatan:

  • Post-Quantum Cryptography (PQC): Pembaruan perangkat lunak dengan algoritma tahan-kuantum
     

  • Quantum Key Distribution (QKD): Pendekatan berbasis hardware untuk berbagi kunci enkripsi secara aman
     

Pada 2024, Monetary Authority of Singapore (MAS) bersama Banque de France berhasil melakukan uji coba penggunaan algoritma PQC (CRYSTALS-Dilithium dan CRYSTALS-Kyber) dalam proses penandatanganan dan enkripsi email. MAS juga mengeluarkan advisory MAS/TCRS/2024/01 yang mendorong lembaga keuangan untuk menyiapkan inventaris kriptografi, melakukan risk assessment, dan mulai mengadopsi solusi PQC.

Singapura juga terus memantau perkembangan standar dari NIST dan akan meluncurkan standar nasionalnya sendiri mulai tahun 2025. 

Referensi: Reed Smith, 2024

Posisi Indonesia

Dibandingkan Singapura, upaya Indonesia masih dalam tahap awal. Pada Mei 2025, Universitas Pertahanan RI (Unhan RI) meresmikan Center for Quantum Security Ecosystem (CQSE) dan meluncurkan dokumen Quantum-Security Roadmap 2025–2030.

  • Fase 1 (2025–2027): Membangun hub riset bersama Unhan, BRIN, BSSN, dan TNI; serta uji coba awal Quantum VPN untuk komunikasi rahasia pemerintah dan militer.

  • Fase 2 (2027–2030): Memperluas adopsi post-quantum cryptography dan quantum key distribution ke jaringan strategis nasional.

Peran ITSEC Asia dalam Menyongsong Revolusi Quantum

PT ITSEC Asia Tbk (CYBR), perusahaan keamanan siber yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, menjadi pelopor riset dan integrasi solusi PQC di Indonesia dan Asia Pasifik.

Strategi PQC ITSEC Asia mencakup:

1. Riset dan Pengujian Teknologi

ITSEC bermitra dengan perusahaan teknologi global dan institusi akademik untuk mengembangkan proof-of-concept (PoC) atas algoritma PQC dan produk seperti Quantum Entropy Appliances, Quantum Entropy-as-a-Service, dan Digital Quantum Key Distribution (DQKD). ITSEC menerapkan PoC dalam skenario nyata seperti komunikasi aman, transaksi keuangan, dan penyimpanan data.

2. Pelatihan dan Pengembangan SDM

Melalui ITSEC Cyber Academy yang diluncurkan tahun 2025, ITSEC menyediakan pelatihan dengan fokus pada PQC, berbasis hasil PoC, untuk membekali profesional TI Indonesia agar siap mengadopsi standar keamanan generasi berikutnya.

3. Edukasi dan Kesadaran Industri

ITSEC aktif dalam mengedukasi industri melalui demonstrasi PoC di berbagai forum industri, media, dan acara seperti ITSEC Cybersecurity Summit 2025, dengan menekankan pentingnya kesiapan terhadap ancaman quantum.

Upaya ITSEC ini mendukung dan melengkapi langkah-langkah awal Indonesia dalam membangun ekosistem keamanan siber yang quantum-resilient.

Share this post

You may also like

Vulnerability Assessment vs Penetration Testing: Memahami Perbedaan yang Perlu Diketahui
Cybersecurity

Vulnerability Assessment vs Penetration Testing: Memahami Perbedaan yang Perlu Diketahui

Dalam dunia cybersecurity, istilah Vulnerability Assessment dan Penetration Testing (VAPT) sering digunakan secara bersamaan. Tidak sedikit organisasi yang menganggap keduanya memiliki fungsi yang sama. Padahal, meskipun sama-sama bertujuan meningkatkan keamanan, Vulnerability Assessment dan Penetration Testing memiliki pendekatan, tujuan dan hasil yang berbeda. Memahami perbedaan keduanya sangat penting agar organisasi dapat memilih metode yang paling sesuai dengan kebutuhan bisnis dan tingkat risiko yang dihadapi. APA ITU VULNERABILITY ASSESSMENT? Vulnerability Assessment adalah proses identifikasi dan evaluasi kerentanan pada sistem, jaringan, aplikasi maupun aset digital lainnya. Tujuan utama dari Vulnerability Assessment adalah menemukan sebanyak mungkin kelemahan yang berpotensi dimanfaatkan oleh attacker. APA YANG DILAKUKAN DALAM VULNERABILITY ASSESSMENT? Proses Vulnerability Assessment umumnya meliputi: * Discovery terhadap aset yang diuji. * Pemindaian kerentanan menggunakan tools otomatis. * Klasifikasi tingkat keparahan risiko. * Penyusunan daftar temuan dan rekomendasi perbaikan. Pendekatan ini membantu organisasi memahami area mana yang memiliki risiko paling tinggi dan membutuhkan prioritas remediasi. KELEBIHAN VULNERABILITY ASSESSMENT Vulnerability Assessment menawarkan sejumlah manfaat, antara lain: * Proses yang relatif cepat. * Cakupan yang luas. * Biaya yang lebih efisien.

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Jun 15, 2026 4 minutes read
Cybersecurity in 2026 The Rise of Strategic Resilience and Practical Protection
Cybersecurity

Cybersecurity in 2026 The Rise of Strategic Resilience and Practical Protection

Cybersecurity in 2026 is defined by a fundamental shift in mindset. The question organizations now face is no longer “Can we prevent every attack?” but “Can we survive, adapt, and continue operating when an attack inevitably happens?” As cyber threats grow faster, more automated, and more business-disruptive, security is evolving from a purely technical function into a core pillar of organizational resilience. This evolution marks the rise of strategic resilience and practical protection, where cybersecurity is measured not by perfection, but by preparedness, prioritization, and recovery. MEASURING CYBERSECURITY BY BUSINESS IMPACT, NOT TECHNICAL METRICS For years, cybersecurity focused on building stronger walls: firewalls, intrusion prevention, and threat blocking. In 2026, that approach alone is no longer sufficient. Attacks are inevitable, and the real differentiator is how well an organization absorbs impact and recovers. Business resilience reframes cybersecurity as a continuity challenge. Downtime, data unavailability, and operational disruption now represent direct financial and reputational risk. As a result, leadership teams increasingly evaluate security through questions like: How quickly can we detect incidents? How

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Feb 09, 2026 4 minutes read
Cybersecurity untuk Institusi Keuangan: Memperkuat Ketahanan Siber di Tengah Regulasi OJK
Cybersecurity

Cybersecurity untuk Institusi Keuangan: Memperkuat Ketahanan Siber di Tengah Regulasi OJK

Transformasi digital telah mengubah cara industri keuangan beroperasi. Bank, perusahaan asuransi, multifinance hingga fintech semakin bergantung pada teknologi untuk memberikan layanan yang lebih cepat, efisien dan terintegrasi kepada nasabah. Namun, di balik percepatan inovasi tersebut, risiko yang dihadapi juga semakin kompleks. Ancaman siber terus berkembang. Infrastruktur menjadi semakin dinamis. Sementara itu, regulator juga menaruh perhatian yang semakin besar terhadap pentingnya ketahanan operasional dan keamanan informasi. Bagi institusi keuangan, cybersecurity bukan lagi sekadar isu teknologi. Cybersecurity telah menjadi bagian dari upaya menjaga kepercayaan nasabah dan keberlangsungan bisnis. MENGAPA INDUSTRI KEUANGAN MENJADI TARGET UTAMA SERANGAN SIBER? Industri jasa keuangan mengelola berbagai aset yang sangat bernilai, seperti: * Data nasabah. * Informasi transaksi. * Sistem pembayaran. * Data pribadi. * Informasi bisnis yang sensitif. Hal tersebut menjadikan sektor keuangan sebagai salah satu target yang paling menarik bagi para pelaku ancaman. Sebuah insiden keamanan tidak hanya berpotensi menyebabkan kerugian finansial, tetapi juga dapat berdampak pada: * Gangguan operasional. * Hilangnya kepercayaan nasabah. * Risiko reputasi. * Konsekuensi hukum dan regulasi. Karena itu, menjaga ketahanan siber menjadi semakin

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Jun 15, 2026 5 minutes read

Receive weekly
updates on new posts

Subscribe