Skill Cybersecurity Berikutnya Bisa Tersembunyi di Dalam Enkripsi
Post quantum security terdengar seperti urusan matematika tingkat tinggi. Bagi banyak tim cyber, pekerjaan pertamanya jauh lebih praktis: mencari apa saja yang nantinya harus diganti.

Quantum computing membawa masalah talenta yang tersembunyi di balik masalah teknologi.
Pembicaraan tentang post quantum cryptography biasanya dimulai dari algoritma. NIST sudah menstandarkan algoritma post quantum pertama dan terus memperbarui standar teknis terkait. Pada Juni, NIST merilis rancangan perubahan untuk membawa post quantum cryptography ke sistem Personal Identity Verification dengan pendekatan yang memungkinkan migrasi dilakukan secara bertahap.
Pada 29 Juni, NIST juga menerbitkan panduan terbaru mengenai crypto agility. Prinsipnya sederhana: organisasi perlu mampu mengganti algoritma dan implementasi kriptografi tanpa menimbulkan gangguan besar pada sistem.
Untuk melakukannya, tim cybersecurity perlu memahami jauh lebih banyak daripada nama algoritma baru.
Sebelum Mengganti, Cari Dulu
Coba tanyakan di mana sebuah organisasi menggunakan enkripsi. Jawaban pertama mungkin VPN, database, certificate dan website.
Cari sedikit lebih jauh dan daftarnya mulai panjang.
Kriptografi dapat berada di aplikasi, API, identity system, cloud service, hardware, software pihak ketiga, backup, digital signature hingga sistem lama yang sudah bertahun tahun tidak ingin disentuh siapa pun.
Karena itu, persiapan migrasi kriptografi membutuhkan kemampuan seperti:
- Menemukan penggunaan algoritma, key dan certificate
- Mengidentifikasi sistem yang masih bergantung pada kriptografi lama
- Memahami key management dan lifecycle certificate
- Memetakan dependency antar aplikasi dan supplier
- Menguji teknologi pengganti tanpa merusak interoperability
- Menentukan prioritas berdasarkan sensitivitas dan umur data
Ini adalah kombinasi kriptografi, architecture, asset management dan tradisi lama cybersecurity: menemukan server terlupakan yang ternyata masih sangat dibutuhkan.
Indonesia Punya Alasan untuk Bersiap Lebih Awal
Isu ini sudah masuk dalam pembicaraan keamanan siber Indonesia.
Pada 10 Agustus, Nezar Patria mengingatkan ancaman harvest now, decrypt later. Pelaku dapat mencuri data terenkripsi sekarang, menyimpannya lalu mencoba membukanya ketika teknologi yang lebih kuat tersedia.
Beberapa hari sebelumnya, ia juga menyebut pemerintah, industri dan pengelola infrastruktur digital perlu mulai mempelajari post quantum cryptography sebagai bagian dari persiapan menghadapi quantum computing.
Artinya, pengembangan talenta tidak perlu menunggu komputer kuantum yang mampu mengancam kriptografi saat ini benar benar tersedia.
Crypto Agility Perlu Dilatih
Latihan yang berguna tidak harus meminta semua peserta merancang algoritma quantum resistant.
Peserta dapat diberikan lingkungan enterprise simulasi lalu diminta mencari certificate, cryptographic library dan dependency yang tersebar di dalamnya. Setelah itu, mereka membuat inventory, menentukan sistem yang menyimpan data sensitif berumur panjang dan merancang migrasi bertahap. Satu komponen kemudian diganti untuk melihat apa yang ikut terdampak.
Latihan seperti ini membangun kemampuan memahami kriptografi sebagai bagian dari sistem operasional.
Pendekatan tersebut relevan dengan pembelajaran praktis di ITSEC Cyber & AI Academy, tempat profesional dapat menghubungkan konsep cybersecurity dengan architecture, implementation dan keputusan yang akan ditemui dalam lingkungan kerja.
Transisi post quantum memang akan melibatkan matematika yang rumit. Namun bagi banyak organisasi, pertanyaan pertama justru jauh lebih sederhana.
Sebenarnya kriptografi kita ada di mana saja?
Pelajari program cybersecurity dan AI berbasis praktik di ITSEC Cyber & AI Academy.
Referensi: NIST: Considerations for Achieving Crypto Agility, 29 Juni 2026 · NIST: Post Quantum Updates to PIV Standards, 12 Juni 2026 · Komdigi: Data Dicuri Hari Ini Bisa Dibuka Nanti, 10 Agustus 2026 · Komdigi: Indonesia Perlu Mulai Mempelajari Post Quantum Cryptography, 6 Agustus 2026
.png)


