Logo
Cybersecurity

Talenta Cybersecurity Perlu Mengerti Bagaimana Sistem Dibangun

Tim security tidak mungkin memeriksa setiap produk yang sudah jadi di pintu keluar. Semakin banyak profesional cyber perlu memahami apa yang terjadi sejak proses pembuatannya.

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 09, 2026
Talenta Cybersecurity Perlu Mengerti Bagaimana Sistem Dibangun

Karier cybersecurity selama ini sering dibayangkan dari sisi pertahanan: memonitor sistem, mendeteksi aktivitas mencurigakan, menginvestigasi insiden lalu memperbaiki vulnerability.

Pekerjaan tersebut tetap dibutuhkan. Namun security semakin bergerak ke tahap yang lebih awal.

ENISA sedang memperbarui European Cybersecurity Skills Framework agar peran cybersecurity semakin selaras dengan secure digital product lifecycle, teknologi seperti AI dan perkembangan regulasi. Framework tersebut memetakan pekerjaan cybersecurity ke dalam 12 profil profesional lengkap dengan tanggung jawab, pengetahuan dan kompetensi yang dibutuhkan.

NIST juga membuat perubahan yang menarik. NICE Framework Components versi 2.2.0 menambahkan Cybersecurity Supply Chain Risk Management sebagai work role serta DevSecOps sebagai competency area.

Perubahan itu menunjukkan cybersecurity semakin dekat dengan proses membangun teknologi.

Security Mulai Masuk ke Proses Produksi

Layanan digital modern jarang dibuat dari satu kumpulan kode yang seluruhnya dibangun sendiri. Sistem bisa menggunakan cloud infrastructure, open-source package, API, layanan eksternal, development pipeline otomatis dan software dari berbagai pihak.

Setiap dependency membawa keputusan keamanan baru.

Karena itu, talenta cybersecurity semakin perlu memahami pertanyaan seperti:

  • Dari mana software dependency berasal dan bagaimana memverifikasinya?
  • Bagaimana credential dan secret dikelola selama development?
  • Bisakah security testing masuk langsung ke development pipeline?
  • Apa yang dilakukan ketika komponen pihak ketiga memiliki vulnerability?
  • Siapa yang menangani risiko ketika satu layanan menggunakan banyak supplier?

Pertanyaan tersebut berada di antara security, software engineering, cloud operations dan risk management. Nama departemen ternyata tidak terlalu berpengaruh terhadap cara vulnerability bekerja.

DevSecOps Mengubah Bentuk Skill Cybersecurity

SOC analyst dan praktisi DevSecOps sama-sama bekerja di bidang cybersecurity tetapi aktivitas sehari-harinya bisa sangat berbeda.

DevSecOps membutuhkan pemahaman security di dalam proses pengembangan software. Praktisinya perlu memahami development workflow, CI/CD pipeline, cloud configuration, automated testing dan cara developer bekerja.

Supply chain security menambah lapisan lain. Work role baru NICE dari NIST mencakup identifikasi, asesmen dan mitigasi risiko cybersecurity sepanjang rantai pasok.

Bagi pengembangan talenta, konsekuensinya cukup jelas. Pelatihan cybersecurity perlu semakin dekat dengan sistem dan proses yang nantinya akan dilindungi peserta.

Peserta application security perlu memahami bagaimana software dirakit. Talenta cloud security perlu berlatih dengan konfigurasi dan deployment. Sementara orang yang mempelajari supply chain risk perlu melihat bagaimana dependency masuk dan bergerak di dalam organisasi.

Bangun, Temukan Masalahnya, Perbaiki

Area ini cocok untuk pembelajaran praktis karena kemampuan yang dibutuhkan sulit dibangun hanya dengan menghafal konsep.

Peserta bisa diberikan application pipeline yang memiliki dependency tidak aman, kemudian diminta menemukan masalah, memperbaiki proses dan menguji apakah kontrolnya bekerja. Kesalahan konfigurasi cloud bisa dimasukkan di tengah deployment untuk melihat apakah peserta mampu menangkapnya sebelum masuk production.

Dengan begitu, latihan menguji kemampuan mengambil keputusan saat sebuah sistem sedang dibangun.

Pendekatan tersebut sejalan dengan pembelajaran di ITSEC Cyber & AI Academy, tempat lingkungan hands-on dapat membantu peserta menghubungkan pengetahuan cybersecurity dengan sistem, workflow dan keputusan keamanan yang akan ditemui di dunia kerja.

Cybersecurity tetap membutuhkan orang yang mengawasi apa yang masuk melalui pintu. Namun semakin banyak pula yang perlu berada lebih dekat dengan lantai produksinya.

Pelajari program cybersecurity dan AI berbasis praktik di ITSEC Cyber & AI Academy.

Referensi: ENISA: European Cybersecurity Skills Framework, diperbarui 7 September 2026 · ENISA: European Cybersecurity Skills Conference 2026 · NIST NICE Framework Components v2.2.0

Share this post

You may also like

OWASP Top 10: Risiko Keamanan Aplikasi yang Perlu Dipahami Setiap Organisasi
Cybersecurity

OWASP Top 10: Risiko Keamanan Aplikasi yang Perlu Dipahami Setiap Organisasi

Aplikasi telah menjadi fondasi utama bagi hampir setiap organisasi modern. Mulai dari platform e-commerce, mobile banking, portal pelanggan hingga sistem internal perusahaan, aplikasi memegang peran penting dalam mendukung operasional dan pengalaman pengguna. Namun, semakin besar ketergantungan terhadap aplikasi, semakin besar pula risiko yang harus dihadapi. Setiap tahun, organisasi di seluruh dunia mengalami insiden keamanan yang berawal dari kelemahan pada aplikasi web. Banyak dari kerentanan tersebut sebenarnya bukan hal baru dan telah lama dikenal oleh komunitas keamanan siber. Karena itulah OWASP Top 10 menjadi salah satu referensi yang paling banyak digunakan dalam dunia application security. APA ITU OWASP? OWASP atau Open Worldwide Application Security Project adalah organisasi nirlaba global yang berfokus pada peningkatan keamanan perangkat lunak. Salah satu publikasi paling terkenal dari OWASP adalah OWASP Top 10, yaitu daftar risiko keamanan aplikasi yang dianggap paling kritikal berdasarkan data industri, penelitian dan masukan dari para praktisi keamanan di seluruh dunia. Daftar ini bukan sekadar checklist compliance. OWASP Top 10 membantu organisasi memahami area risiko yang paling sering dimanfaatkan oleh attacker dan menjadi titik awal dalam membangun

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Jun 15, 2026 — 6 minutes read
Pelatihan Cybersecurity yang Baik Perlu Membiarkan Peserta Salah
Cybersecurity

Pelatihan Cybersecurity yang Baik Perlu Membiarkan Peserta Salah

SOC analyst menerima beberapa alert lalu memilih yang salah untuk diinvestigasi lebih dulu. Penetration tester melewatkan sebuah vulnerability. Seseorang membuat asumsi yang membawa investigasi insiden ke arah yang keliru. Di lingkungan nyata, kesalahan seperti itu bisa mahal. Di lingkungan latihan yang terkontrol, kesalahan tersebut justru memberikan data yang berguna. Webinar NICE dari NIST pada 16 September membahas persiapan talenta cyber melalui reality based education dan pengalaman hands on. Salah satu prinsip yang dibawa cukup menarik: kegagalan dapat menjadi data untuk membaca kesiapan tenaga kerja. Pembahasannya melihat bagaimana pendidikan dan perusahaan dapat menggunakan controlled realism agar peserta mengembangkan kemampuan kerja yang sebenarnya. Ada perbedaan besar antara berhasil menyelesaikan soal dan menunjukkan bagaimana seseorang bekerja. JAWABAN BENAR BELUM MENCERITAKAN SELURUH PROSES Asesmen tradisional cukup bagus untuk menjawab satu pertanyaan: apakah peserta mengetahui jawabannya? Operasi cybersecurity membutuhkan informasi lebih banyak. Bayangkan dua analyst akhirnya menemukan compromised account yang sama. Analyst pertama langsung melihat authentication pattern yang aneh. Analyst kedua menghabiskan 40 menit memeriksa aktivitas lain sebelum mencapai kesimpulan serupa. Keduanya mungkin sama sama mendapatkan tanda centang untuk “berhasil menemukan insiden.” Kemampuannya belum

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 16, 2026 — 3 minutes read
Mengapa Threat Hunting Adalah Satu-Satunya Cara untuk Menghentikan Penyerang yang Sudah Ada di Dalam
Cybersecurity

Mengapa Threat Hunting Adalah Satu-Satunya Cara untuk Menghentikan Penyerang yang Sudah Ada di Dalam

PENDAHULUAN Ada satu pertanyaan yang harus direnungkan oleh setiap pemimpin keamanan: jika seorang penyerang masuk ke jaringan Anda enam bulan lalu, apakah Anda akan mengetahuinya? Menurut Laporan Biaya Pelanggaran Data IBM 2024, rata-rata waktu untuk mengidentifikasi sebuah pelanggaran kini mencapai 194 hari, hampir setengah tahun aktivitas penyerang yang tidak terdeteksi beroperasi bebas di dalam infrastruktur perusahaan. Alat-alat pencegahan, semaju apapun, telah terbukti tidak mampu menutup celah tersebut sendirian. Firewall, perangkat lunak antivirus, dan autentikasi multi-faktor memang diperlukan. Namun itu saja tidak cukup. Organisasi yang memahami perbedaan ini adalah mereka yang berinvestasi dalam threat hunting: praktik proaktif berbasis intelijen yang bertujuan mencari para penyerang yang telah melewati perimeter dan beroperasi dalam diam. ITSEC Asia, pemimpin keamanan siber di Indonesia dengan operasi di Singapura, Australia, dan UAE, bekerja sama dengan organisasi-organisasi di seluruh kawasan tersebut untuk membangun kemampuan ini sebelum pelanggaran berikutnya membuat hal itu menjadi mendesak. Sumber: IBM Cost of a Data Breach Report 2024 [https://www.ibm.com/reports/data-breach] CELAH YANG TIDAK BISA DITUTUP OLEH KEAMANAN REAKTIF Kelemahan mendasar dari keamanan siber yang bersifat reaktif terletak pada arsitekturnya. Security Operations

|
Mei 12, 2026 — 5 minutes read

Receive weekly
updates on new posts

Subscribe