Agentic AI Sudah Hadir. Siapkah Perusahaan Indonesia Membiarkan AI Bertindak?
Di Techpresso 2026, Presiden Direktur ITSEC Asia Patrick Dannacher menyoroti satu perubahan mendasar: persoalannya bukan lagi seberapa pintar AI, tetapi seberapa besar kewenangan yang mulai diberikan perusahaan kepada AI.
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak perusahaan mengenal kecerdasan artifisial sebagai teknologi yang diberi pertanyaan atau instruksi.
Tulis ini. Ringkas dokumen itu. Analisis data ini.
Agentic AI mengubah hubungan tersebut.
AI agent dapat merencanakan pekerjaan, berinteraksi dengan beberapa aplikasi, mengambil keputusan hingga menjalankan tindakan tanpa selalu menunggu instruksi manusia di setiap tahap.
Gartner memperkirakan 40% aplikasi perusahaan akan memiliki AI agent khusus untuk tugas tertentu pada akhir 2026, naik dari kurang dari 5% pada 2025. Baca proyeksi Gartner
Pertanyaan inilah yang menjadi pembahasan utama dalam Techpresso: “Agentic AI, Are We Ready?” yang diselenggarakan Medcom.id pada 10 September 2026.
Diskusi menghadirkan Nezar Patria, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Hammam Riza, Tenaga Ahli Bidang Kecerdasan Artifisial dan Transformasi Digital Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Patrick Dannacher, Presiden Direktur PT ITSEC Asia Tbk (IDX: CYBR).
Pembahasan melihat kesiapan Indonesia dari sisi regulasi, infrastruktur, riset dan keamanan siber. Baca liputan Medcom.id
Pertanyaannya Berubah Ketika AI Mulai Bertindak
Dalam diskusi tersebut, Patrick menggunakan perbandingan sederhana.
Ketika seorang karyawan mendapat akses ke sistem perusahaan, organisasi biasanya menentukan apa yang boleh dilihat, apa yang boleh diubah dan keputusan apa yang boleh dilakukan oleh karyawan tersebut.
AI agent seharusnya diperlakukan dengan disiplin yang sama.
AI yang hanya terhubung ke email memiliki tingkat risiko yang berbeda dengan AI yang dapat mengakses ERP, database pelanggan atau proses keuangan.
Perusahaan perlu mulai menjawab pertanyaan seperti:
- Sistem apa saja yang dapat diakses AI agent?
- Tindakan apa yang boleh dilakukan?
- Apakah akses tersebut tetap aktif setelah pekerjaan selesai?
- Bisakah setiap keputusan dan tindakan ditelusuri kembali?
- Siapa yang bertanggung jawab jika terjadi kesalahan?
Dalam Techpresso, Patrick menyoroti pentingnya membatasi akses yang diberikan kepada Agentic AI, sama seperti perusahaan mengatur hak akses seorang karyawan terhadap sistem tertentu. Lihat pembahasan Patrick di Metro TV
Risikonya kini bukan sekadar AI memberikan jawaban yang salah.
Jika AI memiliki kewenangan yang cukup besar, jawaban yang salah dapat berubah menjadi tindakan bisnis yang salah.
Adopsi Bergerak Lebih Cepat daripada Kesiapan Perusahaan
Minat terhadap Agentic AI sudah sangat tinggi. Gartner mencatat baru sekitar 17% organisasi yang telah menggunakan AI agent, tetapi lebih dari 60% berencana menggunakannya dalam dua tahun ke depan. Baca Hype Cycle for Agentic AI dari Gartner
Ada angka lain yang patut diperhatikan.
Gartner memperkirakan lebih dari 40% proyek Agentic AI akan dihentikan pada akhir 2027 akibat biaya yang meningkat, nilai bisnis yang tidak jelas atau kontrol risiko yang belum memadai. Baca proyeksi Gartner
Artinya, tantangan terbesar mungkin bukan membuat AI agent.
Tantangan sebenarnya adalah menentukan di mana AI boleh bekerja, seberapa besar kewenangan yang diberikan dan bagaimana perusahaan tetap memegang kendali setelah AI mulai bertindak.
Indonesia juga mulai membangun kerangka ke arah tersebut. Kementerian Komunikasi dan Digital telah menekankan pentingnya akuntabilitas serta kendali manusia ketika AI semakin mampu mengambil keputusan dan menjalankan tindakan.
Baca pernyataan Komdigi mengenai tata kelola Agentic AI
Teknologi Bisa Bergerak Cepat. Manusia Tetap Harus Bertanggung Jawab.
Di balik persoalan teknologi dan regulasi, ada kebutuhan yang sama besarnya terhadap talenta.
Perusahaan membutuhkan orang yang memiliki kemampuan lebih dari sekadar menggunakan aplikasi AI. Mereka harus mampu menguji sistem AI, mengelola hak akses, membaca perilaku yang tidak normal, mengaudit keputusan dan menentukan kapan keputusan harus kembali kepada manusia.
Kebutuhan inilah yang menjadi salah satu alasan ITSEC membangun ITSEC Cyber & AI Academy.
Fokusnya adalah kemampuan praktis: menyiapkan talenta yang dapat bekerja langsung dengan sistem keamanan siber dan AI, memahami cara kerjanya serta mampu mengoperasikannya secara aman di lingkungan organisasi nyata.
Agentic AI akan semakin mudah digunakan.
Kemampuan yang lebih sulit adalah mengetahui kapan AI boleh bertindak, sejauh apa kewenangannya dan kapan manusia harus mengambil alih.
Ingin membangun kemampuan cybersecurity dan AI yang lebih praktis?
Pelajari program ITSEC Cyber & AI Academy
Referensi
- Gartner, 40% of Enterprise Apps Will Feature Task-Specific AI Agents by 2026
Baca laporan Gartner - Gartner, Hype Cycle for Agentic AI 2026
Baca artikel Gartner - Gartner, Over 40% of Agentic AI Projects Will Be Canceled by End of 2027
Baca laporan Gartner - Medcom.id, pembahasan kesiapan Indonesia menghadapi Agentic AI
Baca artikel Medcom.id - Metro TV, Patrick Dannacher mengenai kontrol akses pada Agentic AI
Lihat liputan Metro TV - Kementerian Komunikasi dan Digital RI
Baca pernyataan Komdigi
.png)

 berfoto bersama partisipan GNKS Makassar.jpg)
.png)