Logo
Cybersecurity

AI Mempercepat Cybersecurity, tetapi Penilaian Teknis Tetap Dibutuhkan

Ketika tim keamanan mulai menggunakan AI, mereka tetap membutuhkan orang yang memahami sistem di balik sebuah peringatan, risiko di balik rekomendasi dan keputusan yang memerlukan pertimbangan manusia.

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Okt 14, 2026
AI Mempercepat Cybersecurity, tetapi Penilaian Teknis Tetap Dibutuhkan

AI dapat merangkum peringatan keamanan dalam hitungan detik, membantu analis memeriksa aktivitas mencurigakan dan mengurangi waktu untuk pekerjaan berulang. Kemampuan ini berguna, terutama bagi tim yang harus menangani banyak peringatan dalam waktu terbatas. Namun, analisis yang lebih cepat hanya bermanfaat jika seseorang mampu mengenali ketika hasilnya keliru.

Laporan pemerintah Inggris memberikan gambaran menarik mengenai tantangan tersebut. Dalam Cyber Security Skills in the UK Labour Market 2026, yang diterbitkan pada 29 September 2026, sebanyak 57% bisnis yang disurvei memiliki kesenjangan keterampilan teknis dasar cybersecurity. Angka ini meningkat dari 49% pada studi sebelumnya. Laporan yang sama menemukan bahwa 47% pihak yang bertanggung jawab atas keamanan siber di bisnis dan organisasi amal tidak percaya diri menghadapi serangan siber serta belum menggunakan layanan eksternal untuk fungsi tersebut. Di sisi lain, 70% perusahaan cybersecurity melaporkan bahwa staf mereka menggunakan AI dalam pekerjaan sehari-hari, naik dari 53% pada studi sebelumnya. GOV.UK

Temuan tersebut menggambarkan kondisi pasar Inggris, bukan Indonesia. Namun, ada pertanyaan yang relevan bagi organisasi di mana pun yang mulai mengadopsi AI: apakah kemampuan tim berkembang seiring penggunaan teknologinya?

Kemampuan dasar di balik otomatisasi

AI dapat membantu analisis log, penentuan prioritas peringatan, penilaian kerentanan dan investigasi ancaman. Setiap pekerjaan tersebut tetap membutuhkan pengetahuan teknis. Analis perlu memahami pola lalu lintas jaringan yang normal sebelum dapat mengenali anomali. Penguji keamanan harus memahami sistem yang diperiksa sebelum menentukan apakah sebuah temuan benar-benar berisiko.

Tanpa fondasi tersebut, otomatisasi dapat menimbulkan masalah baru. Tim mungkin semakin cepat memproses rekomendasi, tetapi belum tentu semakin baik dalam menilai apakah rekomendasi itu benar.

Karena itu, pengembangan kompetensi tim keamanan perlu mencakup beberapa kemampuan berikut:

  • Dasar jaringan dan sistem: Memahami aliran trafik, sistem operasi, kontrol identitas dan jalur serangan yang umum.
  • Penalaran analitis: Memeriksa bukti, menguji asumsi dan membedakan sinyal ancaman dari false positive.
  • Investigasi berbantuan AI: Memvalidasi hasil AI, mengenali ketidakpastian dan mendokumentasikan keputusan.
  • Komunikasi risiko: Menjelaskan temuan teknis berdasarkan dampak operasional, paparan risiko bisnis dan tindakan yang perlu dilakukan.

Kemampuan tersebut saling berkaitan. Penjelasan yang dihasilkan AI mungkin terdengar meyakinkan, tetapi bahasa yang percaya diri tidak membuktikan bahwa kesimpulannya benar.

Ukur kemampuan kerja, bukan sekadar penguasaan alat

Prinsip yang sama perlu diterapkan dalam pelatihan cybersecurity. Menyelesaikan kursus AI security atau memahami antarmuka sebuah perangkat dapat menjadi langkah awal, tetapi keduanya belum otomatis menunjukkan kesiapan menghadapi pekerjaan operasional.

Latihan perlu menguji kemampuan peserta dalam menyelidiki peringatan, menghubungkan bukti dari berbagai sumber, mengenali informasi yang belum tersedia dan menentukan kapan insiden harus dieskalasikan. Jika AI digunakan, penilaian juga perlu melihat apakah peserta mampu memverifikasi hasil serta menjelaskan alasan menerima atau menolak rekomendasinya.

Organisasi dapat memulai dengan memetakan pekerjaan yang rutin dilakukan tim keamanan, menentukan pengetahuan teknis yang dibutuhkan dan mengujinya melalui skenario realistis. Dengan begitu, pelatihan lebih dekat dengan pekerjaan yang benar-benar akan dijalankan peserta.

Pendekatan ini juga membantu manajemen menentukan pekerjaan mana yang bisa dibantu otomatisasi dan bagian mana yang masih membutuhkan supervisi. Otomatisasi dapat mengubah cara pekerjaan dilakukan, tetapi tanggung jawab atas hasilnya tetap harus jelas.

Menyiapkan tenaga cybersecurity berikutnya

Bagi pengembangan talenta cybersecurity di Indonesia, peluangnya terletak pada penguatan fondasi teknis sekaligus pengalaman praktis menggunakan AI dalam pekerjaan keamanan. Peserta perlu kesempatan untuk bereksperimen, melakukan kesalahan dalam lingkungan yang aman dan menjelaskan keputusan mereka. Organisasi pun membutuhkan gambaran yang lebih jelas tentang kemampuan tim, melampaui daftar perangkat yang telah mereka pelajari.

ITSEC Cyber & AI Academy mendukung pengembangan kompetensi cybersecurity dan AI melalui pembelajaran terstruktur yang relevan dengan kebutuhan profesional. Tujuannya adalah membantu peserta menggunakan teknologi modern dengan tetap memiliki kemampuan teknis untuk memeriksa, mempertanyakan dan menilai hasilnya.

Ingin mengembangkan skill praktis di bidang cybersecurity dan AI? Jelajahi program pembelajaran di ITSEC Cyber & AI Academy.

Referensi

  1. UK Department for Science, Innovation and Technology. Cyber security skills in the UK labour market 2026. Diterbitkan 29 September 2026. Baca laporan resmi
Share this post

You may also like

Skill Cybersecurity Juga Butuh Perawatan
Cybersecurity

Skill Cybersecurity Juga Butuh Perawatan

Seorang profesional cybersecurity menyelesaikan pelatihan pada hari Jumat. Materi sudah dipelajari, asesmen selesai dan ia kembali bekerja dengan kemampuan baru. Enam bulan kemudian, lingkungannya sudah berbeda. Cloud service berubah. Tim mulai menggunakan AI. Teknik serangan berkembang. Prosedur incident response diperbarui. Tiga sistem baru muncul dan satu aplikasi lama yang katanya akan segera pensiun ternyata masih hidup sehat. Karena itu, pelatihan cybersecurity perlu mulai diperlakukan sebagai proses berkelanjutan, bukan agenda tahunan. FISSEA Fall Forum dari NIST pada 15 September membawa pendekatan tersebut ke format yang cukup konkret. Salah satu sesinya mengajak peserta membangun micro training module, dilanjutkan dengan pembahasan penerapan NICE Workforce Framework melalui pembelajaran interaktif dan latihan skill. Tidak semua pembelajaran harus membutuhkan satu minggu meninggalkan pekerjaan. MATERI KECIL UNTUK MASALAH YANG SPESIFIK CISA sudah menggunakan micro learning dalam program pelatihannya. Program Continuous Diagnostics and Mitigation menyediakan video singkat sekitar 3 sampai 10 menit untuk membangun pemahaman dasar sebelum peserta masuk ke demonstrasi dan aktivitas hands on yang lebih dalam. Format seperti ini cocok untuk kebutuhan cybersecurity yang sangat spesifik. Materi singkat dapat digunakan untuk

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 14, 2026 — 3 minutes read
“Punya Skill Cybersecurity” Masih Kurang Jelas Untuk Bermanfaat
Cybersecurity

“Punya Skill Cybersecurity” Masih Kurang Jelas Untuk Bermanfaat

Bayangkan dua SOC analyst yang sama-sama mencantumkan incident response sebagai skill. Orang pertama mampu mengikuti investigation procedure, mengumpulkan evidence dan melakukan escalation terhadap suspicious event. Orang kedua mampu menghadapi serangan yang belum familiar, menghubungkan evidence dari beberapa system, menguji hipotesis awal lalu membantu tim menentukan containment. Keduanya memang memiliki skill incident response. Level kemampuannya jelas berbeda. ENISA sedang mencoba menjawab masalah tersebut melalui revisi European Cybersecurity Skills Framework. ECSF saat ini membagi pekerjaan cybersecurity ke dalam 12 professional role profiles yang menjelaskan responsibility, skill, knowledge serta hubungan antar-role. Versi berikutnya akan menambahkan proficiency levels untuk mendukung workforce assessment, career development dan training pathways. ENISA [https://www.enisa.europa.eu/press-office/press-and-media/european-cybersecurity-skills-framework-ecsf?utm_source=chatgpt.com] Perubahan yang terdengar sederhana ini bisa membuat pembacaan skills gap jauh lebih akurat. DAFTAR SKILL MENUNJUKKAN APA. LEVEL MENUNJUKKAN SEBERAPA JAUH. Ambil contoh penetration testing. Pemula mungkin memahami reconnaissance, menggunakan testing methodology yang sudah tersedia dan mereproduksi vulnerability umum dalam controlled environment. Praktisi dengan pengalaman lebih jauh seharusnya mampu memilih methodology yang sesuai, menyesuaikan testing dengan architecture yang belum familiar, membaca hasil yang ambigu serta menjelaskan business relevance dari sebuah finding. Praktisi tingkat lanjut

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Okt 07, 2026 — 3 minutes read
Apa yang Membedakan AI-Powered Penetration Testing dari Automated Scanner?
Cybersecurity

Apa yang Membedakan AI-Powered Penetration Testing dari Automated Scanner?

PENDAHULUAN Seberapa banyak temuan yang ditandai oleh vulnerability scanner setiap minggu yang benar-benar terbukti nyata? Riset dari OWASP menunjukkan false positive rate untuk jenis vulnerability umum berada di kisaran 15% hingga 30%, dan riset terpisah dari Snyk menemukan bahwa tim security kini menghabiskan sekitar 70% waktu mereka untuk mengejar alert yang ternyata tidak ada apa-apanya. Kesenjangan antara apa yang dilaporkan oleh tool dan apa yang sebenarnya bisa dieksploitasi bukanlah gangguan kecil. Inilah alasan mengapa sepertiga perusahaan yang disurvei mengaku terlambat merespons serangan sungguhan karena tim mereka sibuk menangani ancaman palsu. ITSEC Asia, perusahaan cybersecurity terkemuka di Indonesia, bekerja sama dengan organisasi di seluruh kawasan yang telah mempelajari hal ini dengan cara yang sulit, dan pertanyaan yang terus muncul cukup sederhana. Jika scanner sudah mencentang semua kotak yang diperlukan, mengapa AI-powered penetration testing masih diperlukan, dan apa sebenarnya yang dilakukannya secara berbeda? Sumber: OWASP false positive research via DEV Community [https://dev.to/kuboidsecurelayer/why-automated-vulnerability-scanners-miss-most-real-security-vulnerabilities-2p96] · Snyk: Minimizing False Positives [https://snyk.io/blog/minimizing-false-positives-enhancing-security-efficiency/] PERBEDAAN MENDASAR: MENGIKUTI ATURAN VERSUS BERNALAR SEPERTI ATTACKER Automated scanner bekerja dengan mencocokkan apa yang dilihatnya terhadap library pola-pola yang

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Jul 03, 2026 — 5 minutes read

Receive weekly
updates on new posts

Subscribe