Logo
Cybersecurity

Skill Cybersecurity Juga Butuh Perawatan

Profesional cybersecurity tidak selesai belajar ketika kelas berakhir. Sistem yang mereka lindungi juga tidak berhenti berubah.

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 14, 2026
Skill Cybersecurity Juga Butuh Perawatan

Seorang profesional cybersecurity menyelesaikan pelatihan pada hari Jumat. Materi sudah dipelajari, asesmen selesai dan ia kembali bekerja dengan kemampuan baru.

Enam bulan kemudian, lingkungannya sudah berbeda.

Cloud service berubah. Tim mulai menggunakan AI. Teknik serangan berkembang. Prosedur incident response diperbarui. Tiga sistem baru muncul dan satu aplikasi lama yang katanya akan segera pensiun ternyata masih hidup sehat.

Karena itu, pelatihan cybersecurity perlu mulai diperlakukan sebagai proses berkelanjutan, bukan agenda tahunan.

FISSEA Fall Forum dari NIST pada 15 September membawa pendekatan tersebut ke format yang cukup konkret. Salah satu sesinya mengajak peserta membangun micro training module, dilanjutkan dengan pembahasan penerapan NICE Workforce Framework melalui pembelajaran interaktif dan latihan skill.

Tidak semua pembelajaran harus membutuhkan satu minggu meninggalkan pekerjaan.

Materi Kecil untuk Masalah yang Spesifik

CISA sudah menggunakan micro learning dalam program pelatihannya. Program Continuous Diagnostics and Mitigation menyediakan video singkat sekitar 3 sampai 10 menit untuk membangun pemahaman dasar sebelum peserta masuk ke demonstrasi dan aktivitas hands on yang lebih dalam.

Format seperti ini cocok untuk kebutuhan cybersecurity yang sangat spesifik.

Materi singkat dapat digunakan untuk menyegarkan:

  • Cara membaca security signal tertentu
  • Perubahan prosedur eskalasi insiden
  • Dampak konfigurasi cloud baru terhadap access
  • Evidence yang perlu disimpan saat investigasi
  • Perubahan playbook akibat teknik serangan baru

Tentu kita tidak bisa memasukkan seluruh disiplin cybersecurity ke video delapan menit lalu berharap semuanya selesai.

Microlearning berguna ketika target belajarnya juga kecil dan jelas.

Skill Harus Dekat dengan Pekerjaan

Pembelajaran berkelanjutan akan jauh lebih berguna ketika langsung terhubung dengan pekerjaan peserta.

SOC analyst dapat mempelajari teknik detection baru lalu mencobanya dalam simulasi insiden. Penetration tester dapat memahami satu vulnerability class yang belum familiar kemudian mengujinya pada aplikasi latihan. Praktisi cloud security bisa mempelajari perubahan konfigurasi lalu mencari kesalahan pada environment simulasi.

ENISA menggunakan prinsip serupa dalam pendekatan training dan exercise. Pengujian kemampuan, identifikasi gap lalu peningkatan kompetensi teknis dan operasional menjadi bagian dari pengembangan skill cybersecurity.

Siklusnya sederhana: belajar, praktik, temukan kekurangan, perbaiki lalu ulangi.

Pendekatan ini juga mengubah cara perusahaan melihat investasi pelatihan. Program yang lebih panjang dapat membangun kemampuan baru. Namun mempertahankan kemampuan tersebut membutuhkan kesempatan berlatih sepanjang tahun.

Bangun Ritme Belajar

Program pengembangan cybersecurity bisa menggabungkan pelatihan terstruktur dengan latihan singkat, scenario refresher dan practical challenge secara berkala.

Frekuensinya akan berbeda untuk setiap role. SOC membutuhkan latihan insiden yang rutin. Penetration tester perlu terus bertemu teknik dan teknologi baru. Manager juga perlu berlatih mengambil keputusan ketika menghadapi skenario yang belum familiar.

Di ITSEC Cyber & AI Academy, lingkungan hands on dapat mendukung proses tersebut dengan memberi kesempatan peserta menggunakan skill cybersecurity melalui skenario praktis, bukan membiarkan pengetahuan berhenti di catatan pelatihan.

Sertifikat bisa menunjukkan kapan seseorang selesai mengikuti kelas.

Sertifikat tidak bisa menjamin apa yang masih bisa ia lakukan enam bulan kemudian.

Pelajari program cybersecurity dan AI berbasis praktik di ITSEC Cyber & AI Academy.

Referensi: NIST FISSEA Fall Forum, 15 September 2026 · CISA CDM Micro Learn Training · ENISA Trainings and Exercises

Share this post

You may also like

Think Your System Is Secure? Penetration Testing Can Prove It
Cybersecurity

Think Your System Is Secure? Penetration Testing Can Prove It

INTRODUCTION Today, almost every organization relies on digital systems to run daily operations, from websites and cloud applications to payment systems and internal databases.  However, as digital infrastructure grows, so do cybersecurity risks. Attackers constantly look for vulnerabilities in applications, networks, and systems that they can exploit to gain unauthorized access or steal sensitive data (Cloudflare, 2024). Because of this growing threat landscape, organizations need ways to test their defenses before real attackers attempt to breach them. One of the most effective methods is penetration testing, often called pen testing, where cybersecurity professionals simulate attacks to identify security weaknesses before malicious actors do (IBM, 2024). In simple terms, penetration testing is authorized hacking designed to improve security rather than cause damage. Source: Cloudflare.com [https://www.cloudflare.com/learning/security/glossary/what-is-penetration-testing/], ibm.com [https://www.ibm.com/think/topics/penetration-testing] WHAT IS PENETRATION TESTING? Penetration testing is a cybersecurity assessment where security experts simulate cyberattacks on systems to identify vulnerabilities that attackers could exploit. These experts that are often known as penetration testers or ethical hackers use techniques similar to real attackers, but with permission from the organization and with the goal

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Apr 02, 2026 6 minutes read
Skill Cybersecurity Berikutnya Bisa Tersembunyi di Dalam Enkripsi
Cybersecurity

Skill Cybersecurity Berikutnya Bisa Tersembunyi di Dalam Enkripsi

Quantum computing membawa masalah talenta yang tersembunyi di balik masalah teknologi. Pembicaraan tentang post quantum cryptography biasanya dimulai dari algoritma. NIST sudah menstandarkan algoritma post quantum pertama dan terus memperbarui standar teknis terkait. Pada Juni, NIST merilis rancangan perubahan untuk membawa post quantum cryptography ke sistem Personal Identity Verification dengan pendekatan yang memungkinkan migrasi dilakukan secara bertahap. Pada 29 Juni, NIST juga menerbitkan panduan terbaru mengenai crypto agility. Prinsipnya sederhana: organisasi perlu mampu mengganti algoritma dan implementasi kriptografi tanpa menimbulkan gangguan besar pada sistem. Untuk melakukannya, tim cybersecurity perlu memahami jauh lebih banyak daripada nama algoritma baru. SEBELUM MENGGANTI, CARI DULU Coba tanyakan di mana sebuah organisasi menggunakan enkripsi. Jawaban pertama mungkin VPN, database, certificate dan website. Cari sedikit lebih jauh dan daftarnya mulai panjang. Kriptografi dapat berada di aplikasi, API, identity system, cloud service, hardware, software pihak ketiga, backup, digital signature hingga sistem lama yang sudah bertahun tahun tidak ingin disentuh siapa pun. Karena itu, persiapan migrasi kriptografi membutuhkan kemampuan seperti: * Menemukan penggunaan algoritma, key dan certificate * Mengidentifikasi sistem yang masih

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 11, 2026 3 minutes read
Standar Talenta Cybersecurity Pemula Mulai Berubah
Cybersecurity

Standar Talenta Cybersecurity Pemula Mulai Berubah

Dulu, jalur awal karier cybersecurity cukup mudah ditebak. Pelajari jaringan. Pahami access control. Kenali security operations. Setelah punya pengalaman, barulah masuk ke teknologi yang lebih baru dan rumit. AI mulai mengacak urutan itu. Pada 1 September 2026, ISC2 mulai menggunakan pembaruan materi untuk sertifikasi entry-level Certified in Cybersecurity, perubahan besar pertama sejak sertifikasi tersebut diluncurkan pada 2022. Konsep dasar AI kini masuk ke dalam materi, termasuk mengenali aset AI, ancaman otomatis dan tata kelola teknologi baru yang aman. Panduan AI terbaru mereka juga menunjukkan arah yang sama. Profesional cybersecurity semakin perlu memahami AI governance, keamanan model, integritas data, prompt engineering, manajemen risiko AI dan keamanan sistem yang menggunakan AI. Daftarnya lumayan panjang untuk topik yang belum lama ini masih dianggap spesialis. KEAMANAN AI MULAI TURUN KE LEVEL PEMULA Alasannya cukup praktis. Sistem berbasis AI mulai masuk ke operasional perusahaan sehari-hari. Di sisi lain, AI juga dapat digunakan untuk phishing, rekayasa sosial dan serangan yang semakin otomatis. Indonesia sudah menghadapi perubahan tersebut. Pada 20 Agustus, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengingatkan bahwa AI telah mengubah

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 03, 2026 3 minutes read

Receive weekly
updates on new posts

Subscribe