Logo
Cybersecurity

AI Menaikan Standar Talenta Keamanan Siber

AI bisa membaca ribuan alert lebih cepat dari manusia. Tantangan berikutnya adalah tahu kapan jawabannya keliru.

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 02, 2026
AI Menaikan Standar Talenta Keamanan Siber

AI semakin sering digunakan dalam pekerjaan keamanan siber sehari-hari.

Global Cybersecurity Outlook 2026 dari World Economic Forum mencatat 77% organisasi yang disurvei telah menggunakan AI untuk keamanan siber. Pemanfaatannya antara lain untuk mendeteksi phishing, merespons intrusi dan menganalisis perilaku pengguna.

Bagi tim yang setiap hari berhadapan dengan banyak data dan alert, tentu ini membantu.

Namun AI tidak membuat kebutuhan terhadap talenta keamanan siber berkurang. Justru standar kemampuan manusianya ikut naik.

Kalau Mesin Makin Pintar, Manusianya Tidak Bisa Diam di Tempat

Dalam riset yang sama, 54% organisasi menyebut kurangnya pengetahuan atau kemampuan sebagai hambatan dalam menggunakan AI untuk cybersecurity. Sebanyak 41% juga menyoroti kebutuhan terhadap pengawasan manusia.

Di sinilah peran profesional keamanan siber berubah.

AI sangat bagus untuk memproses informasi dalam jumlah besar. Namun konteks masih menjadi pekerjaan manusia: apakah aktivitas yang terlihat aneh benar-benar berbahaya, apa dampaknya terhadap bisnis dan tindakan apa yang harus dilakukan saat informasinya belum lengkap.

Talenta keamanan siber semakin perlu mampu:

  • Memverifikasi temuan AI sebelum mengambil tindakan
  • Mengenali ketika rekomendasi otomatis tidak sesuai kondisi
  • Menyelidiki aktivitas di lingkungan cloud, endpoint, identity dan network
  • Menghubungkan temuan teknis dengan risiko bisnis
  • Mengambil keputusan ketika masalah tidak memiliki jawaban yang rapi

Bisa menggunakan AI akan menjadi kemampuan dasar. Tahu kapan tidak mempercayainya mungkin justru lebih berharga.

Indonesia Menghadapi Perubahan yang Sama

Pada Agustus 2026, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengatakan AI telah mengubah cara pertahanan sekaligus kejahatan siber bekerja.

Perkembangan agentic AI dapat membuat serangan berjalan semakin otomatis. Deepfake dan rekayasa sosial berbasis AI juga membuat penipuan semakin sulit dikenali.

Respons yang dibutuhkan bukan sekadar menambah teknologi.

Komdigi mendorong penguatan talenta keamanan siber berbasis AI, kolaborasi antara universitas dan industri serta pendekatan security by design, di mana keamanan diperhitungkan sejak sistem mulai dirancang.

Semua itu membutuhkan orang yang memahami teknologi sekaligus mampu menilai dampaknya.

Cara Melatih Talenta Juga Harus Berubah

World Economic Forum menempatkan network dan cybersecurity sebagai tiga kelompok skill dengan pertumbuhan tercepat menuju 2030. Ketika AI menangani lebih banyak pekerjaan rutin, profesional keamanan siber diperkirakan semakin banyak berperan dalam pengawasan, tata kelola dan pengambilan keputusan.

Artinya, pelatihan tidak cukup berhenti pada pemahaman konsep.

Profesional juga membutuhkan kesempatan untuk menginvestigasi masalah, menguji asumsi dan mengambil keputusan dalam kondisi yang menyerupai pekerjaan sebenarnya.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari ITSEC Cyber & AI Academy, yang menggabungkan pembelajaran dengan latihan praktis serta skenario yang mengambil pengalaman dari operasional keamanan siber ITSEC Asia.

Tujuannya bukan membuat manusia berlomba dengan AI dalam memproses data.

Untuk urusan kecepatan, mesin sudah unggul cukup jauh.

Yang perlu dibangun adalah manusia yang tahu apa arti data tersebut dan apa yang harus dilakukan setelahnya.

Pelajari program cybersecurity dan AI berbasis praktik di ITSEC Cyber & AI Academy.

Share this post

You may also like

Skill Cybersecurity Berikutnya Bisa Tersembunyi di Dalam Enkripsi
Cybersecurity

Skill Cybersecurity Berikutnya Bisa Tersembunyi di Dalam Enkripsi

Quantum computing membawa masalah talenta yang tersembunyi di balik masalah teknologi. Pembicaraan tentang post quantum cryptography biasanya dimulai dari algoritma. NIST sudah menstandarkan algoritma post quantum pertama dan terus memperbarui standar teknis terkait. Pada Juni, NIST merilis rancangan perubahan untuk membawa post quantum cryptography ke sistem Personal Identity Verification dengan pendekatan yang memungkinkan migrasi dilakukan secara bertahap. Pada 29 Juni, NIST juga menerbitkan panduan terbaru mengenai crypto agility. Prinsipnya sederhana: organisasi perlu mampu mengganti algoritma dan implementasi kriptografi tanpa menimbulkan gangguan besar pada sistem. Untuk melakukannya, tim cybersecurity perlu memahami jauh lebih banyak daripada nama algoritma baru. SEBELUM MENGGANTI, CARI DULU Coba tanyakan di mana sebuah organisasi menggunakan enkripsi. Jawaban pertama mungkin VPN, database, certificate dan website. Cari sedikit lebih jauh dan daftarnya mulai panjang. Kriptografi dapat berada di aplikasi, API, identity system, cloud service, hardware, software pihak ketiga, backup, digital signature hingga sistem lama yang sudah bertahun tahun tidak ingin disentuh siapa pun. Karena itu, persiapan migrasi kriptografi membutuhkan kemampuan seperti: * Menemukan penggunaan algoritma, key dan certificate * Mengidentifikasi sistem yang masih

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 11, 2026 3 minutes read
Keamanan Siber di Sektor Kesehatan Asia Tenggara: Mengapa Sistem Data Pasien Adalah Pertahanan Baru
Cybersecurity

Keamanan Siber di Sektor Kesehatan Asia Tenggara: Mengapa Sistem Data Pasien Adalah Pertahanan Baru

PENDAHULUAN Apa yang dibutuhkan seorang penyerang untuk mengompromikan data rekam medis pribadi 1,5 juta pasien, termasuk seorang perdana menteri yang sedang menjabat? Dalam kasus SingHealth pada 2018, jawabannya ternyata hanya satu celah kerentanan yang belum ditambal, sebuah email phishing, dan hampir satu tahun akses yang tidak terdeteksi sebelum ada yang menyadari sesuatu telah salah. Investigasi yang menyusul menemukan bahwa tidak ada penetration test yang pernah dilakukan, tidak ada autentikasi dua faktor yang diaktifkan pada sistem-sistem kritis, dan keamanan siber diperlakukan sebagai urusan manajemen IT semata bukan sebagai risiko organisasi. Komite Penyelidik mendeskripsikan kegagalan-kegagalan tersebut sebagai serangkaian peluang yang terlewat, yang bahkan seorang penyerang dengan kemampuan jauh lebih rendah pun bisa mengeksploitasi dengan cara yang sama. Itu terjadi pada 2018. Sejak saat itu, ancaman terhadap sistem layanan kesehatan di Asia Tenggara tidak berkurang. Ancaman itu justru terindustrialisasi. Serangan siber di kawasan ini berlipat ganda pada 2024 dibandingkan tahun sebelumnya, dengan sektor kesehatan secara konsisten masuk dalam daftar target utama bersama keuangan dan pemerintahan. Secara global, sektor kesehatan menyumbang 23% dari seluruh pelanggaran data pada

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Jun 30, 2026 8 minutes read
This is Why You Should Automate Your Cybersecurity
Cybersecurity

This is Why You Should Automate Your Cybersecurity

APAKAH ANDA PERLU MENGOTOMATISKAN OPERASI CYBERSECURITY ANDA? Jawabannya kemungkinan “ya” dan setiap kali saya bertanya kepada siapa pun tentang otomatisasi, mereka menyatakan bahwa otomatisasi tidak diragukan lagi akan meningkatkan keseluruhan fondasi cybersecurity jika diterapkan dengan benar dalam organisasi mereka. Mereka mengatakan “jika” karena organisasi yang saya ajak bicara tidak banyak yang telah menerapkan otomatisasi ke dalam operasi mereka, bahkan jika mereka sudah berniat melakukannya. Biasanya mereka beralasan karena terlalu sibuk untuk berhenti dan mempelajari caranya. Berikut kira-kira merupakan alasan yang paling kuat untuk melakukan otomatisasi... Kita hidup di dunia dimana meluncurkan serangan cyber pada suatu organisasi jauh lebih murah dibandingkan mempertahankan organisasi. Yang memperburuk masalah adalah, lanskap ancaman yang semakin sulit untuk ditutup. Anda memiliki ancaman yang berlipat ganda secara eksponensial dimana musuh semakin unggul setiap hari dan alat keamanan Anda memperingatkan Anda tanpa henti. Ketahanan bisnis adalah tujuan akhir dari setiap operasi cybersecurity dan satu-satunya cara untuk meningkatkan ketahanan umum organisasi Anda yaitu dengan meningkatkan efisiensi Anda secara menyeluruh saat melindunginya. Peran CSOC modern antara lain untuk menerjemahkan ketahanan menjadi kekuatan pada

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Jul 20, 2023 3 minutes read

Receive weekly
updates on new posts

Subscribe