Logo
Cybersecurity

Cybersecurity Punya Lebih Banyak Pintu Masuk dari yang Kita Kira

Talenta cyber berikutnya mungkin sudah bekerja di perusahaan Anda. Hanya saja nama jabatannya sekarang belum mengandung kata “security.”

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 11, 2026
Cybersecurity Punya Lebih Banyak Pintu Masuk dari yang Kita Kira

Ketika membayangkan profesional cybersecurity, jalur kariernya sering terlihat cukup lurus: belajar komputer, masuk IT lalu mengambil spesialisasi keamanan.

Jalur itu memang ada. Kenyataannya jauh lebih beragam.

Riset ENISA yang diterbitkan pada 2026 menemukan banyak pekerja dalam fungsi terkait cybersecurity belum memiliki kualifikasi formal di bidang tersebut. Sebagian juga berpindah dari profesi lain. Upskilling dan reskilling sudah menjadi salah satu sumber tenaga yang digunakan organisasi untuk memenuhi kebutuhan cybersecurity.

NIST juga semakin menaruh perhatian pada banyaknya jalur masuk ke profesi ini. Materi career pathway yang diperbarui pada 8 September berfokus pada cara menghubungkan minat dan kemampuan seseorang dengan work role dalam NICE Workforce Framework.

Ini relevan karena strategi talenta yang hanya mencari profesional cybersecurity yang sudah jadi berarti berebut kandidat dari jumlah yang terbatas. Dalam beberapa kasus, pilihan yang lebih masuk akal adalah membangunnya.

Banyak Skill Lama Tetap Bisa Dibawa

Orang yang pindah ke cybersecurity tidak datang tanpa bekal.

Network engineer sudah memahami infrastructure dan troubleshooting. Software developer mengetahui bagaimana aplikasi dibangun. Orang dari audit terbiasa dengan evidence, control dan compliance. Profesional komunikasi bahkan bisa memiliki keunggulan ketika harus menjelaskan risiko teknis saat insiden terjadi.

Beberapa jalur yang cukup natural antara lain:

  • IT operations: sistem, jaringan, troubleshooting dan penanganan insiden
  • Software development: arsitektur aplikasi, coding dan development workflow
  • Audit dan risk: control, evidence, governance dan regulasi
  • Data: analisis, pengenalan pola dan pengolahan dataset
  • Project management: koordinasi, prioritas dan stakeholder management

Pengetahuan cybersecurity tetap harus dipelajari. Transferable skills berarti peserta tidak benar-benar memulai dari halaman kosong.

Orang yang sangat jago spreadsheet tentu masih perlu belajar banyak sebelum menjadi SOC analyst. Setidaknya kemampuan spreadsheet-nya tidak perlu dibuang ke laut.

Reskilling Mengubah Cara Mencari Talenta

Pendekatan ini menarik bagi perusahaan yang ingin membangun kemampuan dari dalam.

Selain bertanya, “Di mana kita bisa merekrut security specialist?”, organisasi bisa mulai melihat siapa di dalam perusahaan yang memiliki kemampuan berdekatan dan potensi untuk berpindah ke security.

Prosesnya perlu lebih terarah daripada mengirim semua orang ke pelatihan dasar yang sama. Organisasi perlu menentukan role yang dituju, memetakan kemampuan yang sudah dimiliki lalu melatih kompetensi yang masih kurang.

NICE Framework dari NIST mendukung pendekatan tersebut dengan mendefinisikan pekerjaan cybersecurity melalui work role, task, knowledge dan skill.

IT operations yang ingin masuk SOC mungkin perlu memperdalam threat analysis dan incident investigation. Developer yang bergerak ke application security membutuhkan secure coding, security testing dan pemahaman teknik serangan. Profesional risk yang masuk cyber governance akan memiliki jalur belajar berbeda lagi.

Buat Jembatannya

Pelatihan praktis membantu career switcher menghubungkan pengalaman lama dengan situasi security yang baru.

Network engineer bisa menginvestigasi traffic mencurigakan melalui cyber range. Developer dapat menguji aplikasi yang sengaja dibuat vulnerable. Profesional risk dapat menghadapi simulasi insiden dan mencari control mana yang gagal.

Pendekatan tersebut juga menjadi relevan bagi ITSEC Cyber & AI Academy, dengan pembelajaran cybersecurity berbasis praktik yang membantu peserta mengubah pengalaman dari bidang berdekatan menjadi kemampuan cyber yang dapat digunakan dalam pekerjaan.

Indonesia membutuhkan lebih banyak talenta cybersecurity. Merekrut orang yang sudah memiliki jabatan security tetap diperlukan.

Namun kandidat berikutnya mungkin sedang bekerja dua departemen dari tim security saat ini.

Pelajari program cybersecurity dan AI berbasis praktik di ITSEC Cyber & AI Academy.

Referensi: ENISA NIS Investments 2025 Report, diterbitkan 2026 · NIST NICE: Unlocking Student Pathways into Cybersecurity Careers, diperbarui 8 September 2026 · NIST NICE Framework

Share this post

You may also like

Standar Talenta Cybersecurity Pemula Mulai Berubah
Cybersecurity

Standar Talenta Cybersecurity Pemula Mulai Berubah

Dulu, jalur awal karier cybersecurity cukup mudah ditebak. Pelajari jaringan. Pahami access control. Kenali security operations. Setelah punya pengalaman, barulah masuk ke teknologi yang lebih baru dan rumit. AI mulai mengacak urutan itu. Pada 1 September 2026, ISC2 mulai menggunakan pembaruan materi untuk sertifikasi entry-level Certified in Cybersecurity, perubahan besar pertama sejak sertifikasi tersebut diluncurkan pada 2022. Konsep dasar AI kini masuk ke dalam materi, termasuk mengenali aset AI, ancaman otomatis dan tata kelola teknologi baru yang aman. Panduan AI terbaru mereka juga menunjukkan arah yang sama. Profesional cybersecurity semakin perlu memahami AI governance, keamanan model, integritas data, prompt engineering, manajemen risiko AI dan keamanan sistem yang menggunakan AI. Daftarnya lumayan panjang untuk topik yang belum lama ini masih dianggap spesialis. KEAMANAN AI MULAI TURUN KE LEVEL PEMULA Alasannya cukup praktis. Sistem berbasis AI mulai masuk ke operasional perusahaan sehari-hari. Di sisi lain, AI juga dapat digunakan untuk phishing, rekayasa sosial dan serangan yang semakin otomatis. Indonesia sudah menghadapi perubahan tersebut. Pada 20 Agustus, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengingatkan bahwa AI telah mengubah

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 03, 2026 — 3 minutes read
Serangan Supply Chain Semakin Marak: Mengapa Third-Party Risk Butuh Continuous Testing
Cybersecurity

Serangan Supply Chain Semakin Marak: Mengapa Third-Party Risk Butuh Continuous Testing

Pendahuluan Keterlibatan pihak ketiga dalam data breach meningkat dua kali lipat dari 15 persen menjadi 30 persen dalam satu tahun, lonjakan tahunan terbesar yang pernah tercatat dalam Verizon 2025 Data Breach Investigations Report. Ini bukan tren yang bertahap, melainkan pergeseran struktural dalam cara attacker menjangkau target mereka. Alih-alih membobol perusahaan secara langsung, mereka menyasar vendor, software dependency, atau service provider yang diam-diam berada di dalam trust boundary perusahaan tersebut. Sebagai perusahaan cybersecurity terdepan di Indonesia, ITSEC Asia bekerja sama dengan organisasi di sektor finance, healthcare, dan technology yang baru menyadari bahwa pertahanan internal mereka sendiri ternyata bukan gambaran utuh, karena sebuah breach bisa bermula dari tiga vendor jauhnya dan tetap berujung tepat di meja mereka. Source: Supply Chain Attack Statistics 2026, Stingrai Research · Supply Chain Attack Statistics for 2026, Swif Angka-Angka di Balik Pergeseran Ini Supply chain compromise kini rata-rata menelan biaya 4,91 juta dolar AS dan membutuhkan waktu 267 hari untuk diidentifikasi dan ditangani, lifecycle terpanjang dari semua breach vector yang tercatat dalam IBM's Cost of a Data Breach Report. Artinya,

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Jul 31, 2026 — 4 minutes read
Vulnerability Assessment vs Penetration Testing: Memahami Perbedaan yang Perlu Diketahui
Cybersecurity

Vulnerability Assessment vs Penetration Testing: Memahami Perbedaan yang Perlu Diketahui

Dalam dunia cybersecurity, istilah Vulnerability Assessment dan Penetration Testing (VAPT) sering digunakan secara bersamaan. Tidak sedikit organisasi yang menganggap keduanya memiliki fungsi yang sama. Padahal, meskipun sama-sama bertujuan meningkatkan keamanan, Vulnerability Assessment dan Penetration Testing memiliki pendekatan, tujuan dan hasil yang berbeda. Memahami perbedaan keduanya sangat penting agar organisasi dapat memilih metode yang paling sesuai dengan kebutuhan bisnis dan tingkat risiko yang dihadapi. APA ITU VULNERABILITY ASSESSMENT? Vulnerability Assessment adalah proses identifikasi dan evaluasi kerentanan pada sistem, jaringan, aplikasi maupun aset digital lainnya. Tujuan utama dari Vulnerability Assessment adalah menemukan sebanyak mungkin kelemahan yang berpotensi dimanfaatkan oleh attacker. APA YANG DILAKUKAN DALAM VULNERABILITY ASSESSMENT? Proses Vulnerability Assessment umumnya meliputi: * Discovery terhadap aset yang diuji. * Pemindaian kerentanan menggunakan tools otomatis. * Klasifikasi tingkat keparahan risiko. * Penyusunan daftar temuan dan rekomendasi perbaikan. Pendekatan ini membantu organisasi memahami area mana yang memiliki risiko paling tinggi dan membutuhkan prioritas remediasi. KELEBIHAN VULNERABILITY ASSESSMENT Vulnerability Assessment menawarkan sejumlah manfaat, antara lain: * Proses yang relatif cepat. * Cakupan yang luas. * Biaya yang lebih efisien.

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Jun 15, 2026 — 4 minutes read

Receive weekly
updates on new posts

Subscribe