Logo
Cybersecurity

Dalam Pelatihan Cybersecurity, Gagal Bisa Jadi Bagian dari Belajar

Semua jawaban benar saat latihan tentu menyenangkan. Tapi salah mengambil keputusan saat simulasi terkadang justru memberi pelajaran yang lebih berguna sebelum insiden sebenarnya datang.

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 04, 2026
Dalam Pelatihan Cybersecurity, Gagal Bisa Jadi Bagian dari Belajar

Latihan cybersecurity yang semuanya berjalan sesuai rencana memang menenangkan. Mungkin justru terlalu menenangkan.

Insiden sebenarnya jarang datang dengan petunjuk yang rapi. Alert yang terlihat sepele bisa berubah menjadi masalah serius. Informasi yang tersedia belum tentu lengkap. Seorang analis bisa mengikuti satu asumsi selama 20 menit sebelum sadar bahwa sejak awal ia melihat ke arah yang salah.

Bagian yang berantakan seperti inilah yang perlu lebih sering muncul dalam pelatihan.

NIST melalui National Initiative for Cybersecurity Education (NICE) mengangkat pendekatan tersebut dalam pembahasan terbaru mengenai kesiapan talenta siber. Salah satu fokusnya adalah realism-based training, termasuk bagaimana kegagalan dalam lingkungan yang terkontrol dapat digunakan sebagai data untuk melihat kesiapan seseorang.

Nilai ujian bisa menunjukkan apakah seseorang menemukan jawaban. Proses menuju jawaban tersebut sering kali memberi informasi yang jauh lebih menarik.

Jawaban yang Salah Bisa Menunjukkan Skill yang Kurang

Bayangkan dua analis SOC sedang menyelidiki aktivitas mencurigakan. Keduanya akhirnya menemukan sumber masalah. Analis pertama sampai ke sana melalui investigasi yang sistematis. Analis kedua mencoba lima teori, melewatkan satu petunjuk dan akhirnya menemukan jawabannya karena sedikit keberuntungan.

Di atas kertas, keduanya lulus. Dalam operasional, kemampuan mereka belum tentu sama.

Simulasi yang realistis dapat melihat kemampuan yang sulit diukur melalui ujian biasa:

  • Menentukan bukti mana yang perlu diperiksa terlebih dahulu
  • Mengubah pendekatan ketika asumsi pertama ternyata salah
  • Menjelaskan alasan di balik keputusan teknis
  • Bekerja dengan orang lain ketika tekanan meningkat
  • Mengetahui kapan sebuah masalah harus dieskalasikan

Kemampuan seperti ini sulit dibangun hanya dari presentasi. PowerPoint sudah bekerja keras selama bertahun-tahun, tetapi sampai sekarang masih belum bisa meniru insiden produksi.

Indonesia Mulai Mendekatkan Pelatihan dengan Dunia Kerja

Arah kebijakan tenaga kerja Indonesia juga semakin menekankan hubungan antara pelatihan dan kebutuhan pekerjaan.

Pada 1 September, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membuka Program Pelatihan Vokasi Nasional terbaru dan menekankan penguatan kompetensi yang sesuai dengan perubahan kebutuhan industri.

Beberapa program bahkan melanjutkan pembelajaran ke pengalaman kerja. Program BBPVP Bandung pada September, misalnya, dilanjutkan dengan on-the-job training berbasis proyek selama satu bulan setelah periode pelatihan.

Cybersecurity membutuhkan hubungan antara belajar dan praktik seperti ini. Sistem perusahaan bukan tempat ideal untuk pertama kali mengetahui bahwa seorang analis belum pernah menghadapi situasi yang ambigu.

Latihan Boleh Sedikit Berantakan

Cyber range dan simulasi realistis memberi ruang yang aman untuk itu. Peserta bisa menyelidiki masalah, mengambil keputusan, membuat kesalahan lalu memahami penyebabnya tanpa membuat database pelanggan ikut merasakan akibatnya.

Bagi penyelenggara pelatihan, kesalahan tersebut justru memberikan informasi tentang batas antara pemahaman teori dan kemampuan operasional.

Prinsip ini juga menjadi bagian dari pendekatan pembelajaran di ITSEC Cyber & AI Academy, melalui latihan praktis dan skenario realistis yang memberi kesempatan peserta menerapkan pengetahuan cybersecurity dalam situasi yang lebih dekat dengan pekerjaan sebenarnya.

Latihan yang baik tidak harus membuat semua peserta terlihat sempurna. Lebih berguna jika seseorang pernah salah membaca situasi saat latihan daripada pertama kali melakukannya ketika insiden benar-benar terjadi.

Pelajari program cybersecurity dan AI berbasis praktik di ITSEC Cyber & AI Academy.

Referensi: NIST NICE: Preparing Today’s Students for Tomorrow’s Cyber Careers · Kemenko Perekonomian: Pelatihan Vokasi Nasional, 1 September 2026 · BBPVP Bandung: pelatihan berbasis proyek, September 2026

Share this post

You may also like

Tim Security Perlu Memahami Bagaimana Software Sampai ke Production
Cybersecurity

Tim Security Perlu Memahami Bagaimana Software Sampai ke Production

Seorang security professional melakukan review aplikasi dan menemukan vulnerability. Development team memperbaikinya. Masalah dianggap selesai. Kemudian kelemahan serupa muncul lagi pada release berikutnya. Biasanya ini pertanda bahwa sumber masalah berada lebih dalam daripada satu bagian code. Build process mungkin menerima dependency yang tidak aman. Security check dilakukan terlalu terlambat. Container configuration mungkin disalin dari template lama. Developer baru menerima feedback ketika release hampir selesai. National Cybersecurity Center of Excellence dari NIST sedang memberi perhatian lebih besar pada bagian tersebut. Update DevSecOps yang diterbitkan pada 24 September mencakup CI/CD pipeline automation, containerized application deployment serta functional scenario yang menunjukkan aktivitas security sepanjang software development lifecycle. NIST [https://www.nist.gov/news-events/news/2026/09/new-nist-nccoe-resources-devsecops-and-october-28-webinar-agentic-ai?utm_source=chatgpt.com] Implikasinya bagi workforce cukup konkret. Application security professional semakin perlu memahami perjalanan software dari mesin developer sampai production. SECURITY MULAI MASUK LEBIH DALAM KE PIPELINE Security testing secara tradisional bisa dilakukan mendekati akhir development. DevSecOps membawa security activity ke dalam proses yang sudah digunakan developer untuk build, test dan deploy software. Artinya, praktisi perlu bekerja lintas disiplin. Kemampuan DevSecOps yang relevan antara lain: * Memahami perjalanan source code melalui CI/CD

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Okt 05, 2026 — 3 minutes read
Kesenjangan Talenta AI Masih Jadi Titik Lemah Terbesar Transformasi Digital Indonesia
Cybersecurity

Kesenjangan Talenta AI Masih Jadi Titik Lemah Terbesar Transformasi Digital Indonesia

Pendahuluan Berapa banyak orang di tim Anda yang benar-benar memahami cara membangun, mengamankan, dan mengelola tata kelola sistem berbasis AI hari ini. Bagi sebagian besar organisasi, jawaban jujurnya jauh lebih sedikit dari yang sebenarnya dibutuhkan. Laporan Future of Jobs 2025 dari World Economic Forum menemukan bahwa hampir 39 persen keterampilan inti pekerja diperkirakan berubah signifikan pada 2030, dengan AI dan big data berada di puncak daftar keterampilan yang paling dibutuhkan sekaligus paling sulit dipenuhi. ITSEC Asia, yang bekerja dengan organisasi di Indonesia, Singapura, Australia, dan Uni Emirat Arab, melihat pola yang sama terjadi di hampir semua sektor. Adopsi AI berjalan jauh lebih cepat daripada kemampuan organisasi untuk membangun, mengamankan, dan mengelola tata kelola teknologi tersebut secara bertanggung jawab. Source: World Economic Forum, Future of Jobs Report 2025 Kebutuhan Talenta AI Tumbuh Lebih Cepat dari Pasokannya Ini bukan sekadar persoalan jumlah orang, melainkan kesenjangan yang terus melebar antara kecepatan adopsi teknologi dan kecepatan organisasi mencetak orang yang benar-benar kompeten menanganinya. * Studi tenaga kerja ISC2 mencatat kesenjangan talenta keamanan siber global

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Agu 14, 2026 — 4 minutes read
Pipeline Talenta Cybersecurity Membutuhkan Lebih dari Sekadar Lulusan Baru
Cybersecurity

Pipeline Talenta Cybersecurity Membutuhkan Lebih dari Sekadar Lulusan Baru

Cybersecurity punya banyak alasan untuk menarik talenta baru. Ada technical role, policy, incident response, digital forensics, security engineering, governance serta semakin banyak pekerjaan yang berhubungan dengan AI. Namun akses terhadap jalur tersebut belum merata. Program Her CyberTracks dari ITU memberikan gambaran yang cukup jelas. Perempuan hanya mencakup 22% workforce cybersecurity global pada 2025. ITU juga mengidentifikasi akses training yang tidak merata, kurangnya role model perempuan dan rendahnya awareness mengenai pilihan karier cybersecurity sebagai beberapa hambatan utama. ITU [https://www.itu.int/en/ITU-D/Cybersecurity/Pages/Skills-Development/Her-CyberTracks.aspx?utm_source=chatgpt.com] Edisi keempat Her CyberTracks yang berlangsung hingga Oktober 2026 dirancang untuk menjawab sebagian persoalan tersebut. Programnya menggabungkan technical dan policy training dengan mentoring, networking serta practical exercise. Pelatihan regional Asia-Pacific dijadwalkan pada 12–16 Oktober di Bangkok. ITU [https://www.itu.int/en/ITU-D/Cybersecurity/Pages/Skills-Development/Her-CyberTracks.aspx?utm_source=chatgpt.com] Ada pelajaran yang relevan untuk workforce planning: pengembangan talenta membutuhkan ekosistem di sekitar peserta belajar. TRAINING MEMBUKA PINTU. MENTOR MEMBANTU ORANG TERUS BERJALAN. Sebuah course cybersecurity dapat mengajarkan bagaimana incident response bekerja. Namun course tersebut tidak otomatis menunjukkan seperti apa karier di bidang incident response enam bulan kemudian. Di sinilah mentoring punya fungsi yang nyata. Model Her CyberTracks dari ITU memasangkan

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Okt 09, 2026 — 3 minutes read

Receive weekly
updates on new posts

Subscribe