Logo
Cybersecurity

Karir Cybersecurity Perlu Dikenalkan Sebelum Masuk Universitas

Kalau seseorang baru mengenal cybersecurity saat mulai mencari pekerjaan, ada beberapa tahun berharga yang sudah terlewat.

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 07, 2026
Karir Cybersecurity Perlu Dikenalkan Sebelum Masuk Universitas

Tanya pelajar tentang pekerjaan di bidang teknologi dan kemungkinan kita akan mendengar programmer, software engineer atau data scientist. Cybersecurity sering kali masih terasa lebih samar. Kadang muncul jawaban “hacker”, biasanya lengkap dengan hoodie imajiner.

Persepsi tersebut berpengaruh karena Indonesia membutuhkan jauh lebih banyak anak muda yang melihat cybersecurity sebagai pilihan karier nyata sebelum mereka harus menentukan jalur pendidikan dan pekerjaan.

Komdigi mulai membawa edukasi cybersecurity lebih awal. Pada Mei lalu, Badan Pengembangan SDM Komdigi mengadakan pelatihan Basic Cyber Security untuk 124 pelajar SMKN 2 Depok, dengan materi yang diarahkan pada keamanan digital dan kesiapan menghadapi dunia kerja berbasis teknologi.

Arah serupa terlihat secara internasional. Program NICE dari NIST memperbarui agenda webinar September pada 2 September dengan fokus khusus pada persiapan pelajar menuju karier cybersecurity. Salah satu pembahasannya adalah bagaimana pendidikan K–12 dapat mulai mengenalkan kemampuan yang berhubungan dengan kebutuhan tenaga kerja saat ini, termasuk cloud security dan generative AI.

Pendidikan cybersecurity mulai bergerak lebih awal karena perkembangan pekerjaannya juga tidak menunggu.

Kenalkan Dulu, Spesialisasi Kemudian

Memulai lebih awal bukan berarti meminta siswa kelas 10 menjadi penetration tester sebelum ujian matematika berikutnya.

Target pertama adalah membuat mereka mengenal bidangnya.

Beberapa konsep dapat diperkenalkan sejak sekolah agar cybersecurity terasa lebih konkret:

  • Cara jaringan dan identitas digital bekerja
  • Mengapa sebuah sistem bisa memiliki vulnerability
  • Bagaimana phishing dan social engineering memanipulasi pengguna
  • Apa yang sebenarnya terjadi ketika insiden siber muncul
  • Bagaimana defender menyelidiki aktivitas mencurigakan
  • Mengapa cloud dan AI membawa pertanyaan keamanan yang berbeda

Setelah memahami masalah yang dikerjakan profesional cybersecurity, pilihan kariernya menjadi jauh lebih mudah dibayangkan.

Indonesia memiliki jalur yang cukup natural melalui pendidikan vokasi. Program Vocational Blended Learning Komdigi juga menguji kompetensi siswa SMK menggunakan standar berbasis SKKNI. Sepanjang Juni, 99 peserta dari enam SMK di Kabupaten Bekasi mengikuti sertifikasi kompetensi untuk beberapa bidang digital.

Dari Tahu Menjadi Bisa

Pengenalan tetap harus berlanjut menjadi praktik.

Seorang siswa bisa menghafal definisi phishing dalam waktu yang kurang lebih sama dengan menghabiskan segelas kopi. Mengenali phishing yang meyakinkan, mencari sumbernya lalu menentukan respons membutuhkan pembelajaran yang berbeda.

Karena itu, pengalaman praktis semakin relevan ketika kemampuan siswa berkembang. Lab, simulasi, kompetisi dan cyber range memberi kesempatan untuk mengubah konsep menjadi skill yang dapat dilihat dan diuji.

Pendekatan serupa terlihat dalam dukungan Komdigi terhadap Country-to-Country Capture the Flag di Bali pada Agustus lalu. Sebanyak 81 peserta dari 13 negara menguji kemampuan teknis melalui berbagai skenario keamanan siber.

Pipeline talenta akan lebih kuat ketika tahapannya saling terhubung: pengenalan sejak awal menumbuhkan minat, pembelajaran terstruktur membangun fondasi dan praktik realistis membentuk kemampuan.

Alur tersebut juga relevan dengan ITSEC Cyber & AI Academy. Pelatihan cybersecurity dan AI berbasis praktik dapat menjadi tahap berikutnya bagi pelajar maupun profesional yang ingin mengubah pengetahuan dasar menjadi kemampuan yang dapat digunakan di lingkungan kerja.

Pemerintah memperkirakan Indonesia membutuhkan sekitar sembilan juta talenta digital pada 2030. Menunggu seseorang masuk dunia kerja sebelum mengenalkannya pada cybersecurity hanya membuat tantangannya lebih berat.

Kadang pelajaran cybersecurity pertama memang sebaiknya terjadi ketika kelas masih ditutup dengan bunyi bel sekolah.

Pelajari program cybersecurity dan AI berbasis praktik di ITSEC Cyber & AI Academy.

Referensi: Komdigi: Pelatihan Basic Cyber Security untuk Pelajar SMK, 21 Mei 2026 · NIST NICE: Preparing Today’s Students for Tomorrow’s Cyber Careers, diperbarui 2 September 2026 · BPT Komdigi: Sertifikasi Vocational Blended Learning, 3 Juli 2026 · Komdigi: C2C-CTF 2026

Share this post

You may also like

Cybersecurity Network di Era AI: Membangun Arsitektur Zero Trust yang Tangguh untuk Enterprise
Cybersecurity

Cybersecurity Network di Era AI: Membangun Arsitektur Zero Trust yang Tangguh untuk Enterprise

Artificial Intelligence (AI) mempercepat transformasi digital di berbagai industri. Namun di saat yang sama, AI juga mempercepat evolusi ancaman siber. Dari phishing berbasis AI hingga automated vulnerability scanning, pelaku ancaman kini bergerak lebih cepat dan lebih presisi. Dalam konteks ini, cybersecurity network bukan lagi sekadar lapisan proteksi teknis. Ia menjadi fondasi ketahanan bisnis. Menurut tren industri, serangan modern semakin menargetkan celah pada identitas, konfigurasi cloud, serta lalu lintas internal jaringan (east-west traffic), bukan hanya perimeter tradisional. Bagi CISO, CTO, IT Manager, dan pengambil keputusan strategis, ini berarti arsitektur keamanan jaringan harus didesain ulang agar adaptif, berbasis risiko, dan selaras dengan tujuan bisnis. Apa Itu Cybersecurity Network? Cybersecurity network adalah kerangka terintegrasi yang mencakup teknologi, kebijakan, proses, dan kontrol yang dirancang untuk melindungi infrastruktur digital organisasi dari akses tidak sah, gangguan, maupun kebocoran data. Dalam lingkungan enterprise, cakupannya meliputi: * Infrastruktur on-premise * Hybrid dan multi-cloud environment * Aplikasi SaaS * Remote workforce * Sistem Operational Technology (OT) * Integrasi pihak ketiga Cybersecurity network bukan satu solusi tunggal, melainkan ekosistem keamanan yang terkoordinasi. Sumber

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Feb 20, 2026 4 minutes read
Web Application Penetration Testing: Mengapa Aplikasi Web Masih Menjadi Target Utama Serangan Siber?
Cybersecurity

Web Application Penetration Testing: Mengapa Aplikasi Web Masih Menjadi Target Utama Serangan Siber?

Hampir seluruh organisasi modern bergantung pada aplikasi web. Mulai dari portal pelanggan, platform e-commerce, internet banking hingga sistem internal perusahaan, aplikasi web telah menjadi fondasi dari transformasi digital. Namun, semakin besar peran sebuah aplikasi, semakin tinggi pula nilainya di mata para pelaku ancaman. Tidak mengherankan jika aplikasi web masih menjadi salah satu pintu masuk yang paling sering dimanfaatkan dalam berbagai insiden keamanan siber. Karena itulah Web Application Penetration Testing menjadi bagian penting dalam strategi keamanan modern. APA ITU WEB APPLICATION PENETRATION TESTING? Web Application Penetration Testing adalah proses pengujian keamanan yang bertujuan untuk mengidentifikasi dan memvalidasi kelemahan pada aplikasi web sebelum dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Berbeda dengan vulnerability scanning yang sebagian besar dilakukan secara otomatis, penetration testing berupaya mensimulasikan teknik yang digunakan oleh attacker untuk memahami bagaimana sebuah kerentanan dapat memengaruhi keamanan aplikasi dan bisnis secara keseluruhan. Tujuannya bukan hanya menemukan celah keamanan, tetapi memahami dampak yang mungkin ditimbulkan apabila celah tersebut berhasil dieksploitasi. MENGAPA APLIKASI WEB MENJADI TARGET YANG MENARIK? APLIKASI WEB TERHUBUNG LANGSUNG DENGAN INTERNET Sebagian besar aplikasi web dapat diakses

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Jun 15, 2026 5 minutes read
What Is Cloud Security? A First Introduction for Modern Enterprises
Cybersecurity

What Is Cloud Security? A First Introduction for Modern Enterprises

INTRODUCTION: CLOUD ADOPTION IS ACCELERATING, SO ARE THE RISKS Cloud computing has been part of enterprise IT for years, but the risk landscape around it is changing faster than ever. As organizations embrace AI, remote work, and digital transformation, cloud environments have become the backbone of business operations and a prime target for attackers. Today, breaches are no longer limited to traditional data centers. Misconfigured cloud resources, stolen credentials, and unmanaged identities are now among the most common root causes of security incidents. This is why understanding what cloud security is and what it is not matters deeply for enterprises today. At its core, cloud security refers to the policies, technologies, configurations, and responsibilities that protect cloud-based systems, data, and services. This concept is inseparable from how cloud computing itself is defined:an on demand, shared,and externally managed computing model, as outlined in the NIST [https://csrc.nist.gov/pubs/sp/800/145/final]Cloud Computing Definition (SP 800-145), where responsibility is inherently distributed between the provider and the user. WHAT IS CLOUD COMPUTING? A SIMPLE ENTERPRISE PERSPECTIVE Cloud computing is not

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Feb 12, 2026 7 minutes read

Receive weekly
updates on new posts

Subscribe