Logo
Cybersecurity

Masalah Talenta Keamanan Siber Indonesia Bukan Lagi Sekadar Jumlah

Menambah orang memang membantu. Tapi kalau tim masih bingung saat alert benar-benar berubah menjadi insiden, jumlah orang saja belum banyak berarti.

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 01, 2026
Masalah Talenta Keamanan Siber Indonesia Bukan Lagi Sekadar Jumlah

Indonesia membutuhkan lebih banyak profesional keamanan siber. Itu sudah jelas. Yang mulai perlu dipertanyakan adalah apakah masalah terbesar kita masih sebatas jumlah.

Laporan 2026 SANS | GIAC Cybersecurity Workforce Research Report menemukan bahwa 60% organisasi yang disurvei merasa tim mereka belum memiliki kemampuan yang tepat untuk menghadapi ancaman saat ini. Bahkan, 27% responden melaporkan insiden keamanan yang berkaitan langsung dengan kesenjangan kemampuan.

Jadi, punya tim keamanan saja belum cukup.

Sebuah perusahaan bisa memiliki banyak tools, dashboard penuh alert dan teknologi yang mahal. Pertanyaan berikutnya jauh lebih sederhana: apakah orang yang menggunakannya tahu apa yang harus dilakukan ketika sesuatu benar-benar terjadi?

Pekerjaan Keamanan Siber Bergerak Cepat

AI membuat pertanyaan itu semakin relevan.

Saat ini AI sudah dapat membantu menganalisis alert, memprioritaskan kerentanan dan menangani sebagian pekerjaan investigasi yang berulang. Pelaku serangan juga dapat menggunakan teknologi yang sama untuk mempercepat dan memperluas serangan.

Pada Agustus 2026, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengingatkan bahwa perkembangan agentic AI dapat membuat serangan siber berjalan dengan lebih sedikit keterlibatan manusia secara langsung. Ia juga menyoroti ancaman seperti harvest now, decrypt later, ketika data terenkripsi dicuri hari ini untuk kemungkinan dibuka menggunakan teknologi komputasi yang lebih maju di masa depan.

Artinya, bisa menggunakan tools keamanan perlahan menjadi kemampuan dasar.

Tim keamanan semakin membutuhkan orang yang mampu:

  • Menyelidiki aktivitas mencurigakan dan menentukan mana yang benar-benar perlu ditangani
  • Memahami pola serangan tanpa selalu percaya pada alert otomatis
  • Bekerja di lingkungan cloud, endpoint, identity dan network
  • Menggunakan tools berbasis AI tanpa menerima hasilnya mentah-mentah
  • Mengambil keputusan ketika insiden tidak berjalan sesuai teori

Kemampuan seperti ini sulit dibangun hanya dari materi presentasi.

AI Juga Mengubah Cara Talenta Junior Belajar

Profesional junior biasanya membangun pengalaman dari pekerjaan operasional yang berulang, seperti memeriksa alert, menangani kasus sederhana dan membuat dokumentasi insiden.

Pekerjaan seperti ini mungkin terasa rutin, tetapi di situlah insting mulai terbentuk.

SANS melihat AI mulai mengambil sebagian tugas entry-level yang selama ini menjadi tempat belajar bagi talenta baru. Jika tren ini terus berjalan, profesional junior bisa kehilangan sebagian kesempatan untuk belajar dari pekerjaan sehari-hari sebelum dituntut menghadapi masalah yang lebih rumit.

Karena itu, metode pelatihannya juga harus berubah.

Cyber range, simulasi dan latihan berbasis skenario memberi sesuatu yang sulit didapat dari teori: pengalaman mengambil keputusan ketika kondisinya tidak rapi dan jawabannya tidak langsung terlihat.

Indonesia Butuh Lebih Banyak Talenta yang Siap Kerja

Komdigi memperkirakan Indonesia membutuhkan sekitar sembilan juta talenta digital pada 2030, sementara ketersediaannya saat ini masih sekitar tiga juta.

Menutup kesenjangan itu jelas perlu. Namun jumlah peserta pelatihan atau sertifikasi saja belum cukup untuk menunjukkan kesiapan industri.

Ukuran berikutnya adalah kemampuan.

Apakah seseorang bisa menyelidiki alert? Mengenali perilaku mencurigakan? Menjelaskan apa yang terjadi? Mengambil keputusan tanpa selalu menunggu arahan?

Pendekatan inilah yang menjadi bagian dari ITSEC Cyber & AI Academy, yang menggabungkan pembelajaran keamanan siber dengan latihan praktis, simulasi realistis dan pengalaman dari operasional keamanan siber ITSEC Asia.

Seiring AI mengambil lebih banyak pekerjaan rutin, kemampuan manusia untuk menilai situasi dan mengambil keputusan justru akan semakin dibutuhkan.

Indonesia memang membutuhkan lebih banyak talenta keamanan siber.

Tantangan berikutnya adalah memastikan mereka benar-benar siap bekerja.

Pelajari program cybersecurity dan AI berbasis praktik di ITSEC Cyber & AI Academy: www.itsec.academy

Share this post

You may also like

Vulnerability Assessment vs Penetration Testing: Memahami Perbedaan yang Perlu Diketahui
Cybersecurity

Vulnerability Assessment vs Penetration Testing: Memahami Perbedaan yang Perlu Diketahui

Dalam dunia cybersecurity, istilah Vulnerability Assessment dan Penetration Testing (VAPT) sering digunakan secara bersamaan. Tidak sedikit organisasi yang menganggap keduanya memiliki fungsi yang sama. Padahal, meskipun sama-sama bertujuan meningkatkan keamanan, Vulnerability Assessment dan Penetration Testing memiliki pendekatan, tujuan dan hasil yang berbeda. Memahami perbedaan keduanya sangat penting agar organisasi dapat memilih metode yang paling sesuai dengan kebutuhan bisnis dan tingkat risiko yang dihadapi. APA ITU VULNERABILITY ASSESSMENT? Vulnerability Assessment adalah proses identifikasi dan evaluasi kerentanan pada sistem, jaringan, aplikasi maupun aset digital lainnya. Tujuan utama dari Vulnerability Assessment adalah menemukan sebanyak mungkin kelemahan yang berpotensi dimanfaatkan oleh attacker. APA YANG DILAKUKAN DALAM VULNERABILITY ASSESSMENT? Proses Vulnerability Assessment umumnya meliputi: * Discovery terhadap aset yang diuji. * Pemindaian kerentanan menggunakan tools otomatis. * Klasifikasi tingkat keparahan risiko. * Penyusunan daftar temuan dan rekomendasi perbaikan. Pendekatan ini membantu organisasi memahami area mana yang memiliki risiko paling tinggi dan membutuhkan prioritas remediasi. KELEBIHAN VULNERABILITY ASSESSMENT Vulnerability Assessment menawarkan sejumlah manfaat, antara lain: * Proses yang relatif cepat. * Cakupan yang luas. * Biaya yang lebih efisien.

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Jun 15, 2026 4 minutes read
Standar Talenta Cybersecurity Pemula Mulai Berubah
Cybersecurity

Standar Talenta Cybersecurity Pemula Mulai Berubah

Dulu, jalur awal karier cybersecurity cukup mudah ditebak. Pelajari jaringan. Pahami access control. Kenali security operations. Setelah punya pengalaman, barulah masuk ke teknologi yang lebih baru dan rumit. AI mulai mengacak urutan itu. Pada 1 September 2026, ISC2 mulai menggunakan pembaruan materi untuk sertifikasi entry-level Certified in Cybersecurity, perubahan besar pertama sejak sertifikasi tersebut diluncurkan pada 2022. Konsep dasar AI kini masuk ke dalam materi, termasuk mengenali aset AI, ancaman otomatis dan tata kelola teknologi baru yang aman. Panduan AI terbaru mereka juga menunjukkan arah yang sama. Profesional cybersecurity semakin perlu memahami AI governance, keamanan model, integritas data, prompt engineering, manajemen risiko AI dan keamanan sistem yang menggunakan AI. Daftarnya lumayan panjang untuk topik yang belum lama ini masih dianggap spesialis. KEAMANAN AI MULAI TURUN KE LEVEL PEMULA Alasannya cukup praktis. Sistem berbasis AI mulai masuk ke operasional perusahaan sehari-hari. Di sisi lain, AI juga dapat digunakan untuk phishing, rekayasa sosial dan serangan yang semakin otomatis. Indonesia sudah menghadapi perubahan tersebut. Pada 20 Agustus, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengingatkan bahwa AI telah mengubah

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 03, 2026 3 minutes read
Skill Cybersecurity Juga Butuh Perawatan
Cybersecurity

Skill Cybersecurity Juga Butuh Perawatan

Seorang profesional cybersecurity menyelesaikan pelatihan pada hari Jumat. Materi sudah dipelajari, asesmen selesai dan ia kembali bekerja dengan kemampuan baru. Enam bulan kemudian, lingkungannya sudah berbeda. Cloud service berubah. Tim mulai menggunakan AI. Teknik serangan berkembang. Prosedur incident response diperbarui. Tiga sistem baru muncul dan satu aplikasi lama yang katanya akan segera pensiun ternyata masih hidup sehat. Karena itu, pelatihan cybersecurity perlu mulai diperlakukan sebagai proses berkelanjutan, bukan agenda tahunan. FISSEA Fall Forum dari NIST pada 15 September membawa pendekatan tersebut ke format yang cukup konkret. Salah satu sesinya mengajak peserta membangun micro training module, dilanjutkan dengan pembahasan penerapan NICE Workforce Framework melalui pembelajaran interaktif dan latihan skill. Tidak semua pembelajaran harus membutuhkan satu minggu meninggalkan pekerjaan. MATERI KECIL UNTUK MASALAH YANG SPESIFIK CISA sudah menggunakan micro learning dalam program pelatihannya. Program Continuous Diagnostics and Mitigation menyediakan video singkat sekitar 3 sampai 10 menit untuk membangun pemahaman dasar sebelum peserta masuk ke demonstrasi dan aktivitas hands on yang lebih dalam. Format seperti ini cocok untuk kebutuhan cybersecurity yang sangat spesifik. Materi singkat dapat digunakan untuk

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 14, 2026 3 minutes read

Receive weekly
updates on new posts

Subscribe