Logo
Cybersecurity

Mencari Talenta Cybersecurity Berpengalaman, Siapa yang Melatih Pemula?

Perusahaan membutuhkan tenaga yang siap bekerja, sedangkan talenta baru membutuhkan kesempatan untuk membuktikan kemampuannya. Keduanya perlu dipertemukan melalui jalur pengembangan yang jelas.

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Okt 15, 2026
Mencari Talenta Cybersecurity Berpengalaman, Siapa yang Melatih Pemula?

Bagi pencari kerja di bidang teknis, ada satu pertanyaan yang cukup membingungkan: bagaimana mendapatkan pengalaman jika sebagian lowongan sudah meminta pengalaman sebelumnya? Di bidang cybersecurity, persoalan ini menjadi tantangan tersendiri karena organisasi membutuhkan profesional yang mampu melindungi sistem, menyelidiki insiden dan mengelola risiko.

Riset pemerintah Inggris memberikan gambaran mengenai persoalan tersebut. Dalam laporan Cyber Security Skills in the UK Labour Market 2026 yang diterbitkan pada 29 September 2026, jumlah lulusan cybersecurity meningkat 14% dari tahun akademik 2022/23 ke 2023/24, mencapai 7.950 orang. Namun, pendaftaran program apprenticeship khusus cybersecurity turun 15% antara tahun akademik 2023/24 dan 2024/25. Laporan yang sama memperkirakan pertumbuhan tenaga kerja cybersecurity Inggris hanya mencapai 2% dibandingkan tahun sebelumnya. GOV.UK

Artinya, bertambahnya jumlah lulusan belum otomatis menjamin tersedianya kandidat yang siap menjalankan pekerjaan operasional. Perusahaan membutuhkan bukti kemampuan praktis, sementara talenta pemula membutuhkan lingkungan untuk mengembangkan kemampuan tersebut.

Ketika materi pelatihan belum cukup

Cybersecurity memiliki banyak spesialisasi. Analis security operations menyelidiki aktivitas mencurigakan, penetration tester menguji kelemahan sistem dalam lingkungan yang diizinkan, sedangkan spesialis governance menilai kontrol dan risiko. Masing-masing membutuhkan kombinasi pengetahuan, pertimbangan teknis dan pengalaman yang berbeda.

Analisis lowongan dalam laporan pemerintah Inggris memperlihatkan tantangan bagi kandidat pemula. Dari lowongan cybersecurity inti yang mencantumkan persyaratan pengalaman minimum, 34% meminta pengalaman dua hingga tiga tahun, sementara 16% meminta pengalaman nol hingga satu tahun. Angka ini hanya mencakup lowongan dengan persyaratan pengalaman yang dinyatakan, tetapi tetap menunjukkan mengapa sebagian kandidat kesulitan mendapatkan pekerjaan pertama mereka. GOV.UK

Sertifikat dapat menunjukkan bahwa seseorang telah mempelajari suatu bidang. Namun, sertifikat saja belum membuktikan kemampuannya menyelidiki peringatan keamanan, mendokumentasikan bukti atau menjelaskan temuan teknis kepada manajemen.

Solusinya bukan meninggalkan pendidikan formal. Yang dibutuhkan adalah hubungan yang lebih erat antara pembelajaran dan pekerjaan praktis sebelum seseorang memasuki peran cybersecurity penuh waktu.

Membuat langkah pertama lebih terarah

Organisasi dan penyedia pelatihan dapat membantu memperkecil kesenjangan tersebut melalui tiga pendekatan:

  • Gunakan simulasi yang realistis. Peserta berlatih menyelidiki insiden, membaca log, menilai kerentanan dan menyusun dokumentasi dalam lingkungan terkendali.
  • Tetapkan kompetensi sesuai peran. Kandidat SOC analyst membutuhkan bukti kemampuan yang berbeda dari calon penetration tester atau spesialis tata kelola keamanan.
  • Sediakan jalur masuk dengan pendampingan. Magang, apprenticeship, rotasi analis junior dan proyek dengan mentor memberi kesempatan kepada talenta pemula untuk menerapkan kemampuan sekaligus mempelajari praktik profesional.

National Institute of Standards and Technology (NIST) di Amerika Serikat menyediakan rujukan melalui NICE Workforce Framework for Cybersecurity. Kerangka tersebut menggambarkan pekerjaan cybersecurity berdasarkan tugas, pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan. Panduan NIST mengenai tingkat kemahiran juga menekankan kemampuan yang dapat ditunjukkan dalam pekerjaan, bukan hanya pengetahuan akademis atau lamanya seseorang bekerja. NIST

Dengan pendekatan ini, perusahaan dapat menilai kandidat secara lebih terarah. Pertanyaannya tidak berhenti pada pelatihan apa yang sudah diselesaikan, tetapi juga pekerjaan apa yang mampu dilakukan dan bagian mana yang masih memerlukan supervisi.

Menyiapkan jalur dari pendidikan ke pekerjaan

Bagi pengembangan talenta cybersecurity di Indonesia, peluangnya adalah membangun transisi yang lebih terencana dari pendidikan menuju dunia kerja. Penyedia pelatihan dapat menghubungkan materi dengan fungsi pekerjaan yang jelas. Perusahaan dapat menyiapkan tugas yang sesuai untuk pemula serta menetapkan standar kompetensi awal. Peserta dapat membangun portofolio yang menunjukkan hasil kerja, proses berpikir dan kemampuan dokumentasi mereka.

ITSEC Cyber & AI Academy dapat mendukung proses tersebut melalui pembelajaran cybersecurity dan AI yang terstruktur serta berorientasi pada pengembangan kompetensi profesional. Tujuannya membantu peserta membangun pengetahuan dan keterampilan praktis sebagai bekal untuk melangkah ke tahap karier berikutnya.

Industri membutuhkan tenaga berpengalaman. Namun, tenaga berpengalaman yang dibutuhkan beberapa tahun mendatang harus mulai dikembangkan hari ini.

Ingin mengembangkan keterampilan cybersecurity dan AI? Pelajari kesempatan belajar di ITSEC Cyber & AI Academy.

Referensi

  1. UK Department for Science, Innovation and Technology. Cyber security skills in the UK labour market 2026. Diterbitkan 29 September 2026. Baca laporan resmi
  2. National Institute of Standards and Technology (NIST). Identifying Proficiency: NICE Framework Work Roles & Levels of Responsibility. Dibuat 23 Januari 2026; diperbarui 13 Maret 2026. Baca panduan NIST
  3. National Institute of Standards and Technology (NIST). Workforce Framework for Cybersecurity (NICE Framework). Diterbitkan 16 November 2020. Baca publikasi kerangka kerja
Share this post

You may also like

Dalam Pelatihan Cybersecurity, Gagal Bisa Jadi Bagian dari Belajar
Cybersecurity

Dalam Pelatihan Cybersecurity, Gagal Bisa Jadi Bagian dari Belajar

Latihan cybersecurity yang semuanya berjalan sesuai rencana memang menenangkan. Mungkin justru terlalu menenangkan. Insiden sebenarnya jarang datang dengan petunjuk yang rapi. Alert yang terlihat sepele bisa berubah menjadi masalah serius. Informasi yang tersedia belum tentu lengkap. Seorang analis bisa mengikuti satu asumsi selama 20 menit sebelum sadar bahwa sejak awal ia melihat ke arah yang salah. Bagian yang berantakan seperti inilah yang perlu lebih sering muncul dalam pelatihan. NIST melalui National Initiative for Cybersecurity Education (NICE) mengangkat pendekatan tersebut dalam pembahasan terbaru mengenai kesiapan talenta siber. Salah satu fokusnya adalah realism-based training, termasuk bagaimana kegagalan dalam lingkungan yang terkontrol dapat digunakan sebagai data untuk melihat kesiapan seseorang. Nilai ujian bisa menunjukkan apakah seseorang menemukan jawaban. Proses menuju jawaban tersebut sering kali memberi informasi yang jauh lebih menarik. JAWABAN YANG SALAH BISA MENUNJUKKAN SKILL YANG KURANG Bayangkan dua analis SOC sedang menyelidiki aktivitas mencurigakan. Keduanya akhirnya menemukan sumber masalah. Analis pertama sampai ke sana melalui investigasi yang sistematis. Analis kedua mencoba lima teori, melewatkan satu petunjuk dan akhirnya menemukan jawabannya karena sedikit keberuntungan. Di atas kertas,

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 04, 2026 — 3 minutes read
Kesenjangan Talenta AI Masih Jadi Titik Lemah Terbesar Transformasi Digital Indonesia
Cybersecurity

Kesenjangan Talenta AI Masih Jadi Titik Lemah Terbesar Transformasi Digital Indonesia

Pendahuluan Berapa banyak orang di tim Anda yang benar-benar memahami cara membangun, mengamankan, dan mengelola tata kelola sistem berbasis AI hari ini. Bagi sebagian besar organisasi, jawaban jujurnya jauh lebih sedikit dari yang sebenarnya dibutuhkan. Laporan Future of Jobs 2025 dari World Economic Forum menemukan bahwa hampir 39 persen keterampilan inti pekerja diperkirakan berubah signifikan pada 2030, dengan AI dan big data berada di puncak daftar keterampilan yang paling dibutuhkan sekaligus paling sulit dipenuhi. ITSEC Asia, yang bekerja dengan organisasi di Indonesia, Singapura, Australia, dan Uni Emirat Arab, melihat pola yang sama terjadi di hampir semua sektor. Adopsi AI berjalan jauh lebih cepat daripada kemampuan organisasi untuk membangun, mengamankan, dan mengelola tata kelola teknologi tersebut secara bertanggung jawab. Source: World Economic Forum, Future of Jobs Report 2025 Kebutuhan Talenta AI Tumbuh Lebih Cepat dari Pasokannya Ini bukan sekadar persoalan jumlah orang, melainkan kesenjangan yang terus melebar antara kecepatan adopsi teknologi dan kecepatan organisasi mencetak orang yang benar-benar kompeten menanganinya. * Studi tenaga kerja ISC2 mencatat kesenjangan talenta keamanan siber global

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Agu 14, 2026 — 4 minutes read
Cloud Misconfiguration Masih Jadi Penyebab Utama Kebocoran Data: Begini Cara Tetap Aman
Cybersecurity

Cloud Misconfiguration Masih Jadi Penyebab Utama Kebocoran Data: Begini Cara Tetap Aman

Pendahuluan Berapa banyak storage bucket, IAM role, atau API endpoint di lingkungan cloud organisasi Anda yang bisa Anda pastikan sudah dikonfigurasi dengan benar saat ini. Sebagian besar pemimpin keamanan tidak bisa menjawab pertanyaan ini dengan yakin, dan ketidakpastian itulah yang justru dimanfaatkan penyerang. Riset industri terbaru menunjukkan gambaran yang cukup jelas. Verizon Data Breach Investigations Report mengaitkan lima belas persen breach langsung dengan cloud misconfiguration, sementara analisis terpisah dari SentinelOne menemukan bahwa sembilan puluh lima persen kegagalan keamanan cloud berasal dari human error, bukan dari kelemahan platform itu sendiri. Gartner sudah bertahun-tahun menyampaikan hal serupa, memproyeksikan bahwa hingga 2026, sembilan puluh sembilan persen kegagalan keamanan cloud akan menjadi kesalahan pengguna, bukan penyedia layanan. ITSEC Asia, perusahaan cybersecurity terkemuka di Indonesia, bekerja sama dengan organisasi di Indonesia, Singapura, Australia, dan UAE yang tengah berlomba memodernisasi infrastruktur mereka, dan polanya konsisten di mana-mana. Tim bergerak cepat untuk pindah ke cloud, sementara governance yang dibutuhkan untuk mengamankan lingkungan tersebut diam-diam tertinggal di belakang. Source: Cloud Security Statistics 2026: Key Data and Trends Alasan Misconfiguration Masih Mengalahkan Malware

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Agu 07, 2026 — 5 minutes read

Receive weekly
updates on new posts

Subscribe