Logo
Cybersecurity

Persiapan Post Quantum Tidak Harus Dimulai dari Menjadi Cryptographer

Tantangan pertama bukan menciptakan algoritma baru. Tim perlu menemukan semua tempat yang masih bergantung pada algoritma lama.

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 29, 2026
Persiapan Post Quantum Tidak Harus Dimulai dari Menjadi Cryptographer

Tanyakan kepada security team di mana perusahaan menggunakan cryptography. Jawaban pertama biasanya cukup mudah: TLS certificate, VPN, encrypted database dan authentication system.

Lalu lanjutkan pertanyaannya.

Bagaimana dengan API? Code signing? SSH? Embedded device? Software library? Cloud service? Machine identity? Third party application?

Daftarnya bisa memanjang dengan cepat.

Ini relevan karena NIST sudah meminta organisasi mulai melakukan migrasi menuju post quantum cryptography. Tiga standar PQC pertama sudah final sejak 2024 dan NIST menyebut product, service serta protocol perlu diperbarui untuk meninggalkan public key algorithm yang rentan terhadap quantum computing. NIST

Workforce challenge-nya muncul bahkan sebelum algoritma pertama diganti.

Mulai dengan Menemukan Cryptography

Proyek Migration to Post Quantum Cryptography dari NIST mendefinisikan cryptographic inventory sebagai catatan penggunaan cryptography di system, application, service, device dan data flow. Inventory tersebut dapat mencakup algorithm, protocol, key, certificate serta komponen yang bergantung pada semuanya. NIST Pages

Membangunnya membutuhkan kemampuan yang lebih luas daripada memahami matematika di balik ML-KEM atau ML-DSA.

Tim perlu mampu:

  • Menemukan cryptography yang tertanam dalam application dan infrastructure
  • Memahami TLS, SSH, VPN, certificate dan digital signature
  • Menelusuri business system yang bergantung pada cryptographic service tertentu
  • Menilai berapa lama sensitive data harus tetap terlindungi
  • Bekerja dengan application owner dan technology supplier
  • Menguji interoperability setelah mekanisme diganti
  • Menentukan prioritas migrasi berdasarkan risiko

Post quantum readiness akhirnya terlihat seperti persoalan engineering dan asset visibility yang cukup familiar.

Migrasi Melibatkan Banyak Tim

Bayangkan sebuah certificate yang digunakan internal application.

Mengubah cryptography di dalamnya dapat memengaruhi application, identity infrastructure, operating system, network component serta sistem lain yang mempercayai certificate tersebut. Device lama mungkin belum mendukung penggantinya. Performance bisa berubah. Third party dependency juga mungkin berada di tengah rantai.

Pekerjaan NIST pada Juni mengenai post quantum update untuk Personal Identity Verification menunjukkan masalah tersebut. Pendekatan yang sedang dipertimbangkan menggunakan dual stack model, mempertahankan credential klasik sambil menambahkan kemampuan PQC agar backward compatibility dan deployment bertahap tetap memungkinkan. NIST

Ini pekerjaan migrasi, bukan sekadar software update.

Orang yang mengerjakannya membutuhkan pemahaman dependency, testing dan change management selain security.

Masukkan Cryptographic Discovery ke Dalam Training

Latihan PQC tidak harus dimulai dengan matematika tingkat lanjut.

Berikan simulated enterprise yang memiliki web application, certificate, VPN connection, code signing, API dan beberapa legacy system. Peserta diminta membuat cryptographic inventory.

Setelah itu, masukkan migration requirement.

Sistem mana yang perlu diprioritaskan? Dependency apa yang menimbulkan risiko? Di mana cryptography dikendalikan secara internal dan di mana organisasi bergantung pada provider lain? Apa yang harus diuji sebelum perubahan dilakukan?

Pembelajaran praktis relevan untuk kebutuhan seperti ini. Di ITSEC Cyber & AI Academy, hands on cybersecurity environment dapat membantu profesional menghubungkan topik baru seperti post quantum security dengan infrastructure, risk dan operational decision yang sudah mereka temui sehari-hari.

Quantum computing memang bidang yang kompleks.

Persiapan organisasi dimulai dari skill cybersecurity yang jauh lebih familiar: mengetahui apa yang sebenarnya kita miliki.

Pelajari program cybersecurity dan AI berbasis praktik di ITSEC Cyber & AI Academy.

Referensi: NIST: Post Quantum Cryptography · NIST NCCoE: Migration to Post Quantum Cryptography FAQ · NIST: Post Quantum Updates to PIV Standards · ITU Academy: Quantum Communications and Post Quantum Cybersecurity, 14 September–2 October 2026

Share this post

You may also like

Skills Gap Identity Security Ada di Balik Halaman Login
Cybersecurity

Skills Gap Identity Security Ada di Balik Halaman Login

Kita cukup familiar dengan authentication. Masukkan credential, buktikan identitas lalu masuk ke aplikasi. Sistem modern tetap bekerja setelah halaman login menghilang. Aplikasi menggunakan identity dan access token untuk menentukan apa yang boleh dilakukan user maupun workload. Token mendukung single sign-on, federation dan API access. NIST menyebut token sebagai bagian utama dari access management infrastructure serta zero trust architecture. Pada 15 September, NIST menyelesaikan IR 8587 dengan keterlibatan CISA. Panduan tersebut membahas perlindungan token dan assertion dari forgery, theft dan misuse, termasuk identity provider, authorization server, cryptographic key protection, token verification serta lifecycle control. Di balik arsitektur tersebut ada kebutuhan skill yang semakin teknis. IDENTITY SECURITY SUDAH MENJADI ENGINEERING SKILL IAM terkadang terdengar seperti pekerjaan administratif: membuat account, memberikan permission lalu mencabut akses ketika seseorang meninggalkan perusahaan. Pekerjaan tersebut tetap ada. Cloud application, API dan machine identity menambahkan lapisan teknis yang lebih besar. Tim cybersecurity semakin perlu memahami: * Bagaimana token diterbitkan, divalidasi, diperbarui dan dicabut * Bagaimana SSO dan federation memindahkan trust antar sistem * Cryptographic key apa yang melindungi token dan bagaimana

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 23, 2026 — 3 minutes read
AI Menaikan Standar Talenta Keamanan Siber
Cybersecurity

AI Menaikan Standar Talenta Keamanan Siber

AI semakin sering digunakan dalam pekerjaan keamanan siber sehari-hari. Global Cybersecurity Outlook 2026 dari World Economic Forum mencatat 77% organisasi yang disurvei telah menggunakan AI untuk keamanan siber. Pemanfaatannya antara lain untuk mendeteksi phishing, merespons intrusi dan menganalisis perilaku pengguna. Bagi tim yang setiap hari berhadapan dengan banyak data dan alert, tentu ini membantu. Namun AI tidak membuat kebutuhan terhadap talenta keamanan siber berkurang. Justru standar kemampuan manusianya ikut naik. KALAU MESIN MAKIN PINTAR, MANUSIANYA TIDAK BISA DIAM DI TEMPAT Dalam riset yang sama, 54% organisasi menyebut kurangnya pengetahuan atau kemampuan sebagai hambatan dalam menggunakan AI untuk cybersecurity. Sebanyak 41% juga menyoroti kebutuhan terhadap pengawasan manusia. Di sinilah peran profesional keamanan siber berubah. AI sangat bagus untuk memproses informasi dalam jumlah besar. Namun konteks masih menjadi pekerjaan manusia: apakah aktivitas yang terlihat aneh benar-benar berbahaya, apa dampaknya terhadap bisnis dan tindakan apa yang harus dilakukan saat informasinya belum lengkap. Talenta keamanan siber semakin perlu mampu: * Memverifikasi temuan AI sebelum mengambil tindakan * Mengenali ketika rekomendasi otomatis tidak sesuai kondisi * Menyelidiki aktivitas

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 02, 2026 — 2 minutes read
Vulnerability Assessment vs Penetration Testing: Memahami Perbedaan yang Perlu Diketahui
Cybersecurity

Vulnerability Assessment vs Penetration Testing: Memahami Perbedaan yang Perlu Diketahui

Dalam dunia cybersecurity, istilah Vulnerability Assessment dan Penetration Testing (VAPT) sering digunakan secara bersamaan. Tidak sedikit organisasi yang menganggap keduanya memiliki fungsi yang sama. Padahal, meskipun sama-sama bertujuan meningkatkan keamanan, Vulnerability Assessment dan Penetration Testing memiliki pendekatan, tujuan dan hasil yang berbeda. Memahami perbedaan keduanya sangat penting agar organisasi dapat memilih metode yang paling sesuai dengan kebutuhan bisnis dan tingkat risiko yang dihadapi. APA ITU VULNERABILITY ASSESSMENT? Vulnerability Assessment adalah proses identifikasi dan evaluasi kerentanan pada sistem, jaringan, aplikasi maupun aset digital lainnya. Tujuan utama dari Vulnerability Assessment adalah menemukan sebanyak mungkin kelemahan yang berpotensi dimanfaatkan oleh attacker. APA YANG DILAKUKAN DALAM VULNERABILITY ASSESSMENT? Proses Vulnerability Assessment umumnya meliputi: * Discovery terhadap aset yang diuji. * Pemindaian kerentanan menggunakan tools otomatis. * Klasifikasi tingkat keparahan risiko. * Penyusunan daftar temuan dan rekomendasi perbaikan. Pendekatan ini membantu organisasi memahami area mana yang memiliki risiko paling tinggi dan membutuhkan prioritas remediasi. KELEBIHAN VULNERABILITY ASSESSMENT Vulnerability Assessment menawarkan sejumlah manfaat, antara lain: * Proses yang relatif cepat. * Cakupan yang luas. * Biaya yang lebih efisien.

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Jun 15, 2026 — 4 minutes read

Receive weekly
updates on new posts

Subscribe