Logo
Cybersecurity

SOC Tidak Bisa Mendeteksi Sesuatu yang Tidak Pernah Dipelajari

Sebelum analyst menginvestigasi serangan, seseorang harus memastikan evidence yang dibutuhkan memang tersedia.

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 17, 2026
SOC Tidak Bisa Mendeteksi Sesuatu yang Tidak Pernah Dipelajari

Sebuah security alert muncul. Analyst membukanya, memeriksa aktivitas di sekitarnya lalu mulai menyusun apa yang sebenarnya terjadi.

Kelihatannya seperti awal pekerjaan detection.

Padahal banyak pekerjaan sudah dilakukan sebelumnya. Seseorang menentukan event apa yang perlu dicatat, mengonfigurasi sistem untuk menghasilkan log, mengumpulkannya secara terpusat lalu memastikan data tersebut memiliki detail yang cukup untuk investigasi.

Kalau tahap itu buruk, analyst yang sangat bagus sekalipun memulai investigasi dengan beberapa halaman yang hilang.

Latihan cybersecurity ITU di Dushanbe memberikan contoh yang menarik. Dalam program tiga hari pada 21 sampai 23 September 2026, peserta harus mengonfigurasi centralized monitoring dan telemetry collection sebelum menghadapi simulasi ransomware, data exfiltration, server compromise dan command and control traffic. Ada satu aturan yang membuat latihannya lebih realistis: keberhasilan peserta menghadapi serangan pada hari ketiga bergantung pada kualitas monitoring yang mereka bangun sendiri pada hari kedua.

Model seperti ini layak dibawa ke pelatihan SOC.

Visibility Juga Sebuah Skill

Pengembangan SOC sering berfokus pada bagian pekerjaan yang mudah terlihat: menganalisis alert, threat hunting dan incident response.

Semua kemampuan itu bergantung pada sesuatu yang jauh lebih sederhana.

Log-nya harus ada.

CISA menjelaskan logging dan monitoring sebagai dua aktivitas yang saling berhubungan. Logging merekam aktivitas seperti authentication, file access dan perubahan sistem. Monitoring menggunakan catatan tersebut untuk mencari perilaku mencurigakan. Panduannya menyarankan pengumpulan event yang relevan dari server, firewall, endpoint dan cloud service kemudian memusatkannya agar aktivitas abnormal lebih mudah ditemukan.

Karena itu, kesiapan SOC juga membutuhkan kemampuan untuk:

  • Menentukan security event yang perlu dikumpulkan
  • Memahami telemetry dari endpoint, network, aplikasi dan cloud
  • Mengonfigurasi centralized event collection
  • Menemukan area yang masih menjadi blind spot
  • Membuat alert yang berguna tanpa menghasilkan noise terus menerus
  • Menyimpan context yang cukup untuk threat hunting dan investigasi

Mengumpulkan semuanya tidak otomatis berarti kita bisa melihat semuanya.

Gudang penuh log tetap bisa sangat tidak membantu.

Bangun Detection Sebelum Menguji Defender

Metodologi latihan ITU membalik pola training yang cukup umum.

Peserta tidak langsung menerima environment yang seluruh monitoring-nya sudah siap lalu diminta mencari attacker. Mereka harus membangun sebagian visibility tersebut sendiri.

Pendekatan yang sama bisa digunakan dalam latihan SOC.

Berikan enterprise environment dengan logging yang belum lengkap. Peserta harus menentukan event mana yang dibutuhkan lalu mengatur collection. Setelah itu, baru jalankan simulated intrusion.

Kalau attacker bergerak melalui bagian sistem yang lupa dimonitor, blind spot tersebut menjadi bagian dari pelajaran.

Kalau peserta mengumpulkan terlalu banyak data yang tidak relevan sampai signal penting tenggelam, masalahnya juga langsung terlihat.

Latihan akhirnya menguji engineering judgment sekaligus kemampuan analisis.

SOC Membutuhkan Dua Sisi Kemampuan

Bagi workforce planning, implikasinya cukup praktis. Organisasi membutuhkan analyst yang mampu menginvestigasi aktivitas mencurigakan. Namun kemampuan SOC yang matang juga membutuhkan orang yang memahami telemetry di balik detection.

Skill tersebut dapat berada di SOC engineering, security operations, cloud security, network security maupun incident response. Nama jabatannya tidak terlalu menentukan selama kemampuan itu tersedia.

Lingkungan praktis seperti cyber range dapat menghubungkan keduanya. Di ITSEC Cyber & AI Academy, peserta dapat bekerja dengan infrastructure dan skenario cybersecurity yang realistis sehingga keputusan konfigurasi mereka memengaruhi apa yang nantinya bisa dideteksi dan diinvestigasi.

Analyst terbaik sekalipun tidak bisa menginvestigasi evidence yang tidak pernah dikumpulkan.

Kadang kesiapan SOC memang dimulai satu hari sebelum serangannya datang.

Pelajari program cybersecurity dan AI berbasis praktik di ITSEC Cyber & AI Academy.

Referensi: ITU National Cybersecurity Exercises, 21–23 September 2026 · CISA: Use Logging on Business Systems · ITU CyberDrills

Share this post

You may also like

Mengajarkan Penggunaan AI Tanpa Keamanan Sama Saja Baru Setengah dari Pelajaran
Cybersecurity

Mengajarkan Penggunaan AI Tanpa Keamanan Sama Saja Baru Setengah dari Pelajaran

Sebanyak 750 ASN dan non-ASN di empat provinsi Kalimantan mulai mengikuti pelatihan AI pada 7 September. Program BLSDM Komdigi Banjarmasin bersama ASEAN Foundation tersebut membahas dasar AI, etika, implementasi dan satu materi yang layak mendapat perhatian khusus: keamanan data. Kombinasi itu masuk akal. Semakin banyak pekerja menggunakan AI untuk merangkum dokumen, menganalisis informasi, membuat materi dan membantu pekerjaan rutin. Banyak di antaranya bahkan tidak perlu memahami pemrograman. Namun setiap kemampuan baru membawa pertanyaan baru: sebenarnya data apa yang sedang kita berikan kepada AI? SKILL AI PUNYA SISI KEAMANAN Seseorang bisa sangat mahir membuat prompt tetapi tetap mengambil keputusan keamanan yang buruk. Bayangkan seorang karyawan harus merangkum laporan internal yang panjang. Memasukkan dokumen tersebut ke AI mungkin menghasilkan rangkuman yang sangat baik. Pertanyaan apakah dokumen itu boleh dimasukkan sejak awal adalah ujian yang berbeda. Karena itu, pengguna AI perlu memiliki literasi keamanan dasar untuk bertanya: * Informasi apa yang sedang saya masukkan? * Apakah ada data pribadi, rahasia perusahaan atau data pelanggan? * Platform AI mana yang sudah disetujui organisasi? * Bisakah output

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 08, 2026 3 minutes read
Keamanan Siber di Sektor Kesehatan Asia Tenggara: Mengapa Sistem Data Pasien Adalah Pertahanan Baru
Cybersecurity

Keamanan Siber di Sektor Kesehatan Asia Tenggara: Mengapa Sistem Data Pasien Adalah Pertahanan Baru

PENDAHULUAN Apa yang dibutuhkan seorang penyerang untuk mengompromikan data rekam medis pribadi 1,5 juta pasien, termasuk seorang perdana menteri yang sedang menjabat? Dalam kasus SingHealth pada 2018, jawabannya ternyata hanya satu celah kerentanan yang belum ditambal, sebuah email phishing, dan hampir satu tahun akses yang tidak terdeteksi sebelum ada yang menyadari sesuatu telah salah. Investigasi yang menyusul menemukan bahwa tidak ada penetration test yang pernah dilakukan, tidak ada autentikasi dua faktor yang diaktifkan pada sistem-sistem kritis, dan keamanan siber diperlakukan sebagai urusan manajemen IT semata bukan sebagai risiko organisasi. Komite Penyelidik mendeskripsikan kegagalan-kegagalan tersebut sebagai serangkaian peluang yang terlewat, yang bahkan seorang penyerang dengan kemampuan jauh lebih rendah pun bisa mengeksploitasi dengan cara yang sama. Itu terjadi pada 2018. Sejak saat itu, ancaman terhadap sistem layanan kesehatan di Asia Tenggara tidak berkurang. Ancaman itu justru terindustrialisasi. Serangan siber di kawasan ini berlipat ganda pada 2024 dibandingkan tahun sebelumnya, dengan sektor kesehatan secara konsisten masuk dalam daftar target utama bersama keuangan dan pemerintahan. Secara global, sektor kesehatan menyumbang 23% dari seluruh pelanggaran data pada

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Jun 30, 2026 8 minutes read
Empat Alasan Kuat Menggunakan MSSP
Cybersecurity

Empat Alasan Kuat Menggunakan MSSP

Test

Terlalu banyak tantangan yang harus dihadapi merupakan alasan utama sebagian besar organisasi saat ini beralih ke managed security service provider (MSSP), atau penyedia layanan pengelolaan keamanan, agar dapat membantu mereka dalam mengatasi hal tersebut. Tantangan dalam memperkuat sumber daya manusia, proses, dan teknologi Anda sebagai upaya untuk mengamankan kekayaan intelektual dan data mereka dengan tepat, serta tetap mematuhi peraturan cybersecurity bisa menjadi tugas yang berat pada saat yang terbaik, bahkan meskipun ditangani oleh departemen IT yang terkelola dengan baik. Dengan pertimbangan ini, maka berikut merupakan empat alasan utama saya lebih memilih MSSP daripada in-house security. MENGGUNAKAN MSSP MENGHEMAT UANG ANDA Membangun, menjalankan, dan memelihara ekosistem cybersecurity membutuhkan banyak biaya. Salah satu penyebabnya yaitu banyak solusi yang diberikan oleh perangkat lunak memerlukan perangkat keras dan peralatan khusus untuk menjalankannya, dan biasanya datang bersama biaya lisensi yang berulang. Selanjutnya yang membuat biaya meningkat adalah gaji karyawan cybersecurity serta biaya pelatihan yang mereka butuhkan agar dapat memanfaatkan alat dan teknologi baru dengan tepat. Keindahan dalam menggunakan MSSP yang sangat disukai CFO pada anggaran mereka adalah

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Jul 10, 2023 5 minutes read

Receive weekly
updates on new posts

Subscribe